back index  

Tatkala manusia dengan kemajuan sains memiliki kemampuan untuk menciptakan peralatan-peralatan super cepat, sedemikian cepat sehingga keluar dari domain gravitasi bumi; manusia menciptakan beraneka macam pesawat sehingga sinar laser pembawa maut di luar lapisan ozon dapat terkendali, ia mengenakan pakaian-pakaian yang dapat menjaganya dari panas dan dingin yang luar biasa, dengan latihan ia dapat membiasakan dirinya dalam kondisi tanpa beban. Ringkasnya, manusia dengan memanfaatkan kekuataannya yang terbatas dapat mengatasi kesulitan-kesulitan ini. Lalu, mengapa dengan kekuatan nir-batas Ilahi, kesulitan-kesulitan ini tidak dapat terpecahkan?!

Kita percaya bahwa Allah Swt. telah menganugerahkan kepada Nabi saw. kendaraan super cepat yang layak untuk meniti perjalanan ruang angkasa ini dan melindungi beliau dari bahaya-bahaya yang ada selama dalam perjalanan. Bagaimana kendaraan ini dan apa namanya? Buraq? Rafraf? Atau kendaraan yang lain? Pokoknya, kendaraan yang dikendarai oleh Nabi saw. adalah kendaraan misterius dan asing di telinga kita.

Terlepas dari semua itu, asumsi kecepatan maksimal yang telah disebutkan di atas telah mengguncang kalangan para ilmuwan, meskipun seorang Einstein dengan asumsinya yang kesohor dengan susah payah mempercayai asumsi tersebut.

Para ilmuwan hari ini berpendapat bahwa gelombang gravitasi tidak memerlukan waktu, berpindah dari satu sudut dunia ke sudut dunia lainnya dan menyisakan efek, dan bahkan, ada kemungkinan bahwa gerakan gravitasi ini berhubungan dengan luasnya jagad raya. (Kita ketahui bahwa jagad raya ini mengalami perkembangan, bintang dan sistem tata surya [kosmos] dengan cepat saling menjauh satu sama lainnya). Dan terdapat sistem tata surya (kosmos) yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya menjauh dari pusat alam semesta. (Perhatikan baik-baik).

Singkatnya, kesulitan-kesulitan yang telah disebutkan di atas tidak satu pun yang menyebabkan akal menganggap Mikraj sebagai kejadian yang mustahil. Kesulitan-kesulitan tersebut dapat terpecahkan dengan menggunakan peralatan dan kekuatan yang ada.

Di atas segalanya, masalah Mikraj tidak hanya tidak mustahil secara rasional, juga tidak mustahil secara empirik dan sains dewasa ini. Semua dapat menerima ihwal supranaturalnya Mikraj ini. Dengan demikian, meskipun masalah ini dibuktikan melalui dalil naratif (naqli) yang definitif, tentu kita harus menerimanya dengan lapang dada.[14]

Apakah Kemaksuman Para Nabi Berdimensi Jabr (Determinasi)?

Tatkala menelaah pembahasan ihwal ‘‘ishmah", sebagian besar orang akan segera bertanya kepada diri mereka sendiri bahwa kedudukan ‘ishmah merupakan sebuah anugerah Ilahi yang secara mesti diberikan kepada para nabi dan para imam. Dan seseorang yang menerima anugerah ini mendapat jaminan terjaga dari dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, kemaksuman mereka tidak termasuk sebagai keutamaan dan kehormatan bagi mereka. Siapa saja telah terliputi anugerah ini, ia akan terjaga dari segala dosa dan kesalahan, dan hal ini merupakan kemestian dari Allah swt.

Dengan demikian, berkat kedudukan ‘ishmah, mustahil bagi mereka untuk dapat melakukan dosa dan kesalahan. Dan jelas bahwa meninggalkan kemustahilan tidak termasuk sebagai sebuah keutamaan. Umpamanya, sekiranya kita tidak berbuat aniaya terhadap orang-orang yang datang dalam kurun waktu seratus tahun yang akan datang atau seratus tahun sebelumnya, hal itu tidak akan menjadi kebanggaan bagi kita, lantaran tidak mungkin bagi kita untuk melakukan perbuatan ini.

Meskipun pembahasan ini tidak terfokus pada masalah pokok ‘ishmah para nabi, akan tetapi mereka mempertanyakan keutamaan para nabi tersebut. Kini dengan memperhatikan beberapa poin di bawah ini, pertanyaan ini dapat terjawab dengan jelas:

a. Mereka yang menguraikan masalah ini tidak memperhatikan akar-akar ‘ishmah para nabi. Mereka beranggapan bahwa kedudukan ‘ishmah, misalnya, ‘ishmah (kekebalan) terhadap sebagian penyakit yang bisa melalui jalan suntik dan bisa juga melalui jalan imunisasi. Dan barangsiapa telah diberikan suntikan, ia tidak akan pernah menderita penyakit, suka atau tidak suka.

Akan tetapi, kekebalan para maksum dari dosa bersumber dari derajat pengetahuan dan ketakwaan mereka. Persis seperti menghindar dari dosa-dosa yang dilakukan oleh setiap orang di antara kita berkat ilmu dan iman yang kita miliki. Ibarat seekor kancil dengan badan telanjang tidak akan melangkahkan kakinya di lorong dan di jalan. Demikian juga orang yang memiliki informasi cukup ihwal unsur-unsur destruktif obat-obat terlarang (psikotropika) bahwa pengaruh obat-obatan ini akan menyebabkan kematian secara perlahan. Maka, ia tidak akan pernah mau menjamahnya. Tentu saja, meninggalkan obat-obat terlarang ini merupakan sebuah keutamaan baginya yang bersumber dari ilmu yang dimilikinya. Dan pengetahuan ini -meskipun sedikit- tidak menimbulkan unsur pamaksaan, karena ia masih memiliki kemampuan untuk mengkonsumsi obat-obat terlarang tersebut.

Atas alasan ini, kita berupaya meningkatkan derajat ilmu kita melalui pendidikan dan pengajaran, sehingga sekurang-kurangnya ilmu ini dapat melindungi diri dari dosa-dosa besar, perbuatan-perbuatan buruk dan tercela.

Apakah mereka yang meninggalkan perbuatan dosa lantaran pendidikan dan pengajaran ini bukanlah sebuah keutamaan dan kebanggaan?

Dengan ungkapan lain, meninggalkan dosa bagi para nabi adalah mustahil secara praktis (muhâl ‘âdî), bukan mustahil secara rasional (muhâl aqlî). Dan kita ketahui bahwa kemustahilan praktis selaras dengan kebebasan (ikhtiyar). Contoh, seorang alim dan mukmin membawa minuman keras ke masjid dan meminumnya di tengah-tengah barisan jamaah. Perbuatan ini tentu saja secara praktis mustahil, tidak secara rasional.

Singkatnya, ketinggian derajat ilmu dan iman para nabi sebagai sebuah kebanggaan dan keutamaan mereka, menjadi sebab utama sebuah kebangaan dan keutamaan lain, yaitu kedudukan ‘ishmah. (Perhatikan baik-baik!).

Dan sekiranya seseorang bertanya; dari manakah mereka mendapatkan ilmu dan iman demikian itu? kita akan menjawab bahwa mereka mendapatkannya melalui inayah Allah Swt. Akan tetapi, dengan catatan (qaid) bahwa inayah-inayah Allah itu bukannya tanpa alasan. Mereka mendapatkan inayah Ilahi ini karena mereka memiliki kelayakan untuk itu. Sebagaimana Al-Qur’an menegaskan perihal Nabi Ibrahim, “Dan [ingatlah], tatkala Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat [perintah dan larangan], lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia ....’”. (QS. Al-Baqarah [2]: 124)

Ihwal Nabi Yusuf a.s., Al-Qur’an menuturkan, “Dan tatkala ia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf [12]: 22)

Redaksi “Kadzâlika Nujzil Muhsinin (demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik) merupakan bukti atas apa yang kita maksudkan; bahwa mereka mendapatkan itu karena kelayakan tersebut. Nabi Yusuf telah menyiapkan dirinya sehingga layak menerima anugerah agung Ilahi.

Tentang Nabi Musa a.s., terdapat redaksi yang menjelaskan realitas ini. Al-Qur’an menyebutkan, “...Kami telah menguji dengan beberapa ujian; maka tinggallah engkau selama beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau datang menurut waktu yang ditetapkan, wahai Musa.” (QS. Thaha [20]: 40)[15]

Jelas bahwa dalam diri para nabi ini terdapat berbagai kelayakan dan potensi. Namun, mengaktualkan potensi dan kelayakan ini bukan karena determinasi (ijbâr), tetapi berdasarkan kehendak bebas mereka sendiri sehingga dapat melintasi jalan ini. Dan betapa banyak orang yang memiliki berbagai kelayakan, tetapi ia tidak mengaktualkannya dan tidak mengoptimalkannya. Ini dari satu sisi.

Dari sisi lain, para nabi mendapatkan anugerah mulia ini lantaran mereka memikul tanggung jawab yang berat di pundak mereka. Dengan kata lain, Allah Swt. memberikan kekuatan dan kemampuan kepada mereka sesuai dengan kadar tanggung jawab yang mereka emban, dan hendak menguji mereka dengan tanggun jawab ini.

b. Jawaban yang lain yang dapat diberikan atas pertanyaan di atas adalah, meskipun dengan dukungan inayah Ilahi (‘ishmah) tersebut para nabi telah kebal dari perbuatan dosa dan kesalahan sehingga mereka dapat menarik kepercayaan umat dan menjadi pelita hidayah bagi mereka, namun pada saat yang sama, pintu “tark al-aulâ” (meninggalkan yang lebih utama); yaitu sebuah pekerjaan yang tidak termasuk sebagai perbuatan dosa dan bukan kelas mereka untuk melakukannya, masih terbuka di hadapan mereka.

Kebanggaan mereka terletak pada upaya meninggalkan  tark al-aulâ, dan upaya ini merupakan ikhtiar penuh mereka. Apabila tark al-aulâ datang menyapa kehidupan mereka, tak ayal lagi mereka akan mendapatkan celaan (‘itâb) Ilahi secara setimpal. Dan terkadang mereka tersandung dari pelbagai deprivasi. Keutamaan apakah yang lebih besar dari realita bahwa lantaran menaati perintah Ilahi mereka meninggalkanidak melakukan tark al-aulâ?

Oleh karena itu, kebanggaan para nabi terletak pada penerimaan tanggung jawab sesuai dengan kadar anugerah dari Tuhan. Dan bahkan terletak pada keengganan mereka untuk menjamah ladang tark al-aulâ. Dan sekiranya tark al-aulâ mendatangi mereka, mereka dengan segera harus menebusnya.[16]

Perbedaan antara Mukjizat dan Kekuatan Supranatural Para Penyihir serta Petapa

a. Mukjizat bersandar pada kekuatan Ilahi, sementara sihir dan kekuatan supranatural para penyihir dan petapa (murtâdhan)[17] bersumber dari kekuatan manusia. Dengan demikian, mukjizat bersifat nir-batas dan begitu agung, sedangkan kekuatan sihir dan supranatural para petapa (asketik) bersifat terbatas.

Dengan kata lain, mereka hanya dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan lantaran telah melakukan latihan. Dan untuk mewujudkan kekuatan tersebut mereka telah memiliki persiapan. Mereka sekali-kali tidak dapat melakukan perbuatan yang diusulkan kepadanya. Hingga kini, belum dijumpai seorang petapa dan penyihir berkata, “Aku siap memenuhi apa pun yang Kamu inginkan.” Sebab, mereka dapat melakukan perbuatan sihir dan supranatural itu hanya berdasarkan pelatihan yang dijalaninya.

Benar bahwa para nabi secara pribadi menunjukkan mukjizat dan sebelum adanya tuntutan dari manusia, seperti Al-Qur’an bagi Nabi saw., mukjizat tongkat dan tangan bercahaya bagi Nabi Musa a.s., menghidupkan para mayit bagi Nabi Isa a.s. Namun, ketika umat meminta sesuatu yang baru, seperti, membelah bulan, mengenyahkan segala musibah yang dipaksakan oleh Fir'aun, turunnnya makanan dari langit untuk para Hawariyyun, dan semisalnya, mereka sekali-kali tidak menolaknya. (Tentu saja dengan catatan, bahwa permintaan itu untuk mendapatkan kebenaran, bukan karena keras kepala dan angkuh).

Oleh karena itu, kita melihat dalam kisah Nabi Musa a.s., bagaimana Fir’aun meminta kesempatan yang panjang dari beliau sehingga ia dapat mengumpulkan para tukang sihirnya dan mempersiapkan segala sesuatunya. “Maka himpunkanlah segala daya [sihir] kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris ....” (QS. Thaha [20]: 64) Mereka memusatkan seluruh kekuatan dan mendemonstrasikannya. Sementara Nabi Musa a.s. tidak memerlukan persiapan-persiapan pendahuluan ini. Dan setelah menyaksikan sihir para penyihir tersebut, beliau tidak meminta waktu untuk bertempur dengan mereka, karena beliau bersandar kepada kekuatan Ilahi, sedangkan para penyihir bersandar kepada kekuatan terbatas manusia.

Atas dasar ini, dalil kekuatan supranatural manusia dapat tertandingi dan diserupai, dimana orang lain pun dapat melakukan hal yang sama. Atas dasar ini pula, pembawa kekuatan ini sama sekali tidak pernah berani menantang orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dan orang yang memiliki kekuatan ini juga tidak pernah mengatakan bahwa tidak seorang pun yang dapat melakukan seperti apa yang telah dilakukannya. Sedangkan, mukjizat -lantaran tidak dapat dilakukan oleh manusia (dengan kekuatannya)- selalu disertai dengan tantangan. Nabi saw. bersabda, “Sekiranya seluruh bangsa jin dan manusia berkumpul untuk mendatangkan Al-Qur’an, mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu.”

Masih atas dasar ini, ketika kekuatan supranatural manusia berhadapan dengan mukjizat, kekuatan itu segera tumbang, dan sihir tidak akan pernah dapat menandingi mukjizat, persis seperti tidak adanya manusia yang mampu menandingi kekuatan Allah swt.

Contoh permasalahan ini dapat terlihat dengan baik pada kisah Nabi Musa a.s. dan Fir'aun. Fir'aun mengumpulkan tukang-tukang sihir dari berbagai penjuru negeri Mesir, dan dalam beberapa waktu mereka melakukan persiapan untuk mendemonstrasikan sihir mereka. Pada akhirnya, kekuatan sihir mereka lenyap tatkala berhadapan dengan kekuatan mukjizat Nabi Musa a.s. dalam sekejap mata.

b. Karena berasal dari sisi Allah Swt., mukjizat tidak memerlukan pendidikan dan pengajaran yang berkelanjutan.    Sedangkan sihir, apabila murid tidak belajar dengan baik dari gurunya, ia tidak akan dapat mendemonstrasikannya dengan baik di hadapan khalayak, dan akan mengalami rasa malu di hadapan publik.

Dengan ungkapan lain, mukjizat dapat terjadi pada setiap detik tanpa adanya pengalaman sebelumnya, sedangkan kekuatan supranatural bersifat gradual dan memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan kemahiran dan kepandaian, dan tidak akan pernah terlaksana secara seketika dan tak terduga-duga.

Masalah ini juga telah diisyaratkan dalam kisah Fir'aun dan Nabi Musa. Fir'aun menuding tukang sihir sebagai guru mereka dan Musa mengajarkan kepada mereka rahasia-rahasia sihir kepada Kamu.

... sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian .... (QS. Thaha [20]: 71)

Dengan alasan ini, para tukang sihir itu senantiasa mengajarkan sihir kepada murid-muridnya dan berlatih dengan mereka selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

c. Kondisi orang yang mendemonstrasikan mukjizat merupakan bukti atas kebenaran mereka.

Cara lain untuk membedakan kekuatan mukjizat dan kekuatan supranatural manusia adalah membandingkan pembawa kedua kekuatan ini. Pembawa mukjizat memiliki tugas dari sisi Allah swt. untuk memberikan petunjuk kepada manusia. Ia memilki sifat-sifat yang pantas dengan tugasnya. Sedangkan para tukang sihir, peramal, dan petapa tidak memiliki tugas seperti ini, juga tidak mengupayakan tujuan-tujuan seperti ini. Biasanya, tujuan mereka tidak keluar dari salah satu dari tiga hal berikut ini:

- Membuat orang-orang awam terpedaya.

- Mencari popularitas di tengah-tengah masyarakat.

- Memperoleh keuntungan materi dengan memberikan hiburan kepada mereka.

Tatkala kedua kelompok ini (para nabi dan tukang sihir dan semisalnya) berada dalam sebuah medan, untuk waktu yang lama mereka tidak akan dapat menyembunyikan niat dan tujuan-tujuan laten mereka, sebagaimana para penyihir Fir'aun. Sebelum memasuki medan, mereka meminta imbalan dan upah, dan Fir'aun juga menjanjikan upah penting bagi mereka,

Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun seraya berkata, “[Apakah] sesungguhnya kami akan mendapatkan upah, jika kamilah yang menang?” Ahli sihir berkata, “Wahai Musa! Kamulah yang akan melemparkan lebih dahulu ataukah kami yang akan melemparkan?” (QS. Al-A'raf [7]: 113-114)

Sementara para nabi berulang kali berkata, “Aku tidak meminta sepeser pun upah dari Kamu.” (QS. Aasy-Syua'ara [26]: 109)

Pada dasarnya, realita bahwa para penyihir itu rela melayani Fir'aun yang lalim dan tiran, telah memadai bagi kita untuk dapat dijadikan bukti sebagai pembeda antara sihir dan mukjizat.

Sudah jelas bahwa manusia melalui perbuatan-perbuatannya, semakin mahir ia menutupi tujuan dan pikirannya, semakin jelas bentuk aslinya.

Singkatnya, dengan menelaah kehidupan masa lalu orang-orang ini dan bagaimana mereka menggunakan kekuatan supranatural ini, dan demikian juga, dengan memperhatikan kebersamaan mereka dalam kaitannya dengan kelompok-kelompok yang beragam dalam masyarakat, perilaku dan perbuatan mereka ini merupakan pedoman yang baik untuk membedakan antara sihir dan mukjizat. Dan terlepas dari perbedaan-perbedaan yang telah disebutkan di atas, cara menentukan perbedaan antara mukjizat, sihir dan kekuatan supranatural yang lain, dapat dilakukan dengan mudah melalui cara seperti ini.

Al-Qur’an dengan redaksi-redaksi akurat mengisyaratkan realitas ini. Di satu tempat ia berfirman, “... Musa berkata, ‘Apa yang Kamu lakukan itulah yang merupakan sihir. Sesungguhnya Allah akan menampakkan kebatilannya.’ Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus pekerjaan orang-orang yang berbuat kerusakan berlangsung.’” (QS.Yunus [10]: 81)

Benar! Para penyihir merupakan orang-orang yang rusak dan perbuatan mereka batil. Tentu saja perbuatan demikian tidak dapat memberikan hasil bagi perbaikan sebuah masyarakat.

Di tempat lain, Al-Qur’an menyebutkan, “Kami berkata, ‘Janganlah engkau takut, sesungguhnya engkaulah yang paling unggul.’” (QS. Thaha [20]: 68) Kemudian ia menambahkan, “Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu-daya tukang sihir [belaka]. Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja mereka datang.” (QS. Thaha [20]: 69)

Benar bahwa perbuatan sihir itu adalah licik, dan tentu saja moralitas penyihir senada dengan kelicikan tersebut. Mereka adalah orang-orang licik dan tidak jujur, dan akan segera dapat dikenali dari seluruh perbuatan dan sifat-sifatnya. Sedangkan keikhlasan, kekudusan dan kebenaran para nabi merupakan menyataan yang dibuktikan oleh mukjizat mereka dan memberikan penjelasan yang lebih gamblang.[18]

Tidakkah Kelahiran Nabi Isa a.s. hanya dari Seorang Ibu Bertentangan dengan Sains Mutakhir?

Tanpa syak lagi bahwa kelahiran ini terjadi melalui mukjizat. Sains modern tidak dapat menafikan kemungkinan terjadinya masalah ini. Malahan sebaliknya. Ia dapat menjelaskan kemungkinan terjadinya masalah ini, khususnya masalah virginitas yang terlihat di antara kebanyakan hewan. Dengan memperhatikan masalah koagulasi sperma, tidak terkhusus kepada manusia saja, masalah ini secara umum mungkin dibuktikan.

Dokter Alexis Carell, seorang fisiolog dan biolog ternama berkebangsaan Prancis, dalam buku Insân Maujud-e Nâshenakhteh (Manusia Wujud Misterius) menuliskan: “Jika kita memikirkan equilibrium saham dari ibu dan bapak (bertemunya sperma dan ovum—AK.) dalam reproduksi, kita harus mengingat percobaan-percobaan laub dan batâyun yang ada pada seekor katak tanpa interfensi spermatozoid. Dengan menggunakan teknik khusus, ia dapat melahirkan katak yang lain.”

Dengan demikian, boleh jadi sebuah faktor kimia atau fisika menggantikan sel baru. Namun, bagaimanapun wujudnya, faktor materi senantiasa bersifat niscaya adanya.

Oleh karena itu, dalam pandangan sains, yang jelas di dalam proses melahirkan anak adalah adanya nutfah betina (ovum) dari pihak ibu. Kalau tidak, nutfah jantan (spermatozoa) merupakan faktor lain yang dapat menggantikan peran ovum tersebut. Dengan alasan ini, masalah virginitas merupakan sebuah realitas yang dapat diterima oleh dunia fisiologi dewasa ini, betapa pun hal ini sangat jarang terjadi.

Terlepas dari ini semua, hal itu terjadi di bawah hukum-hukum penciptaan dan kekuasaan Tuhan, sebagaimana Al-Qur’an berfirman, “Sesungguhnya perumpamaan [penciptaan] Isa di sisi Allah adalah ibarat [penciptaan] Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Jadilah [seorang manusia]!’ Maka, jadialah ia.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 59).

Maksudnya, kekuatan mukjizat penciptaan Adam tidak begitu penting dibanding kekuatan mukjizat penciptaan Isa.[19]

Apabila Ajaran Nabi Musa a.s. Sempurna, Apakah Nilai Ajaran Kristen dan Islam?

Setiap ajaran yang pernah ada hanya diperuntukkan untuk masa dan zamannya. Pada masanya ia merupakan ajaran yang sempurna dan lengkap, dan mustahil ajaran yang cacat turun dari sisi Allah Swt. Barangkali untuk masa-masa berikutnya, ajaran itu sudah tidak utuh dan memadai, sebagaimana suatu program lengkap dan sempurna untuk pendidikan tingkatan SD tidak sesuai dengan pendidikan tingkatan SMP. Dan rahasia pengutusan para nabi dengan kitab samawi yang beragam, termasuk Nabi saw. dan ajaran pamungkas juga demikian adanya.

Akan tetapi, tatkala umat manusia memiliki kesiapan untuk menyambut ajaran pamungkas, maka ajaran ini diturunkan kepada mereka. Mereka tidak lagi memerlukan kepada ajaran yang baru, ebagaimana orang-orang yang telah lulus beradasarkan pengetahuan yang dimilikinya, dapat terus melaju melalui telaah yang dilakukannya. Pengikut agama seperti ini tidak lagi memerlukan ajaran baru, dan dapat hidup sempurna melalui ajaran pamungkas ini.[20]


[1] Tafsir-e Neműneh, jilid 17, hal. 345.

[2] Untuk penjelasan lebih lanjut, Anda dapat menelaahnya dalam kitab Bihâr al-Anwâr, jilid 18, hal. 277.

[3] Tafsir-e Neműneh, 440/1.

[4] Nűr ats-Tsaqalain, jilid 3, hal. 325.

[5] Idem.

[6] Tafsir Neműneh, jilid 13, hal. 27.

[7] Futűh al-Buldân, Buladzuri, cet. Mesir, hal. 459.

[8] Tafsir al-Burhân, jilid 4, hal. 332, dalam penafsiran ayat pertama surat al-Jumu'ah.

[9] Tafsir Neműneh, jilid 6, hal. 400.

[10] Muhammad Payambariy keh az Nou Bayad Shenâkht, hal. 125.

[11] Tafsir al-Burhân, jilid 2, hal. 400; Tafsir Neműneh, jilid 12, hal. 16.

[12] Objek selestial (planet-planet) ini berjumlah sembilan. Antara lain, Mercurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto—AK.

[13] Kharq berarti membuka dan mengoyak, dan Iltiyam berarti bergabung bersama. (Kedua terma ini akrab digunakan dalam pembahasan ilmu kalam [teologi], bahwa ketika seseorang melintas menembus objek selestial yang ibarat garis bawang tersebut, maka garis tersebut akan terkuak, terenggut [kharq] dan setelah itu mengalami konsiliasi, tersambung kembali [ilitiyam]—AK.). Sebagian filsuf terdahulu percaya bahwa perkara ini (Mikraj) tidak mungkin terjadi pada objek selestial.

[14] Untuk penjelasan lebih jauh, silakan rujuk Hameh Mikhâkhand Bedânand (Semua Orang Pengen Tahu), ihwal masalah Mikraj, membelah bulan (syaq al-Qamar), ibadah pada dua kutub yang telah kami bahas. Silakan juga lihat Tafsir Neműneh, jilid 12, hal. 17.

[15] Redaksi, tsumma ji`ta 'alâ qadarin yâ Musa terkadang bermakna kelayakan untuk menerima wahyu, dan terkadang bermakna masa menerima perintah risalah.

[16] Tafsir Payâm-e Qur’ân, jilid 7, hal. 193.

[17] Dalam tradisi masyarakat India, ritus-ritus asketik ini dipraktikan melalui jalan-jalan haram, menyiksa jiwa dan raga dengan tujuan memperkuat ruh dan jiwa untuk memperoleh kesaktian. Padanan terma murtâdhan dalam Bahasa Inggris adalah asceticism atau petapa dalam Bahasa Indonesia—AK.

[18] Tafsir Payâm-e Qur’ân, jilid 7, hal. 288.

[19] Tafsir Neműneh, jilid 13, hal. 58.

[20] Tafsir Neműneh, jilid 6, hal. 41.

back index