Kita tahu bahwa Alquran merupakan buku pedoman hidup tertinggi di dunia ini, dan dengan itu ia sekaligus mempersiapkan kita untuk alam akhirat, alam tanpa batas waktu dan ukuran. Orang yang buta di dunia ini, yang tak mampu melihat hukum-hukum yang mengatur kehidupan di alam ini, tak akan pemah mampu melihat ke alam-alam yang lebih halus, yang meskipun kurang nyata, namun membantu mengatur dunia ini.
Surah Yasin memberi kita pengajaran yang jelas mengenai jalan-jalan Allah. Surah ini mengandung gambaran yang menyeluruh tentang tauhid, tentang sifat Yang Maha-wujud, tentang hukum-hukum yang mengatur kehidupan dan tentang tingkat kebebasan manusia sebagai makhluk jasmani-rohani.
Surah ini diawali dengan seruan kepada Nabi, meng-gunakan huruf-huruf sebagai lambang yang darinya bahasa dibangun sehingga memungkinkan manusia berkomunikasi. Bahasa membedakan kesadaran manusia dari kesadaran kreatif, dan huruf-huruf berfungsi sebagai tembok yang membangun bahasa, demikian pula atom-atom berfungsi sebagai zat penyusun bangunan molekul benda-benda fisik. Huruf dan atom membentuk pola saling hubungan yang melekat pada hukum "ejaan" dan "tata bahasa", dengan hukum ini Seluruh makhluk tidak saling tabrakan, dalam makna maupun bentuknya. Unsur-unsur harfiyah sejajar dan melambangkan kehadiran kimiawi huruf dan bersifat aktif dalam materi genetik yang membentuk menjadi bermakna.
Perumusan nasib manusia dijelaskan kepada kita dengan adanya pertanda baik maupun pertanda bumk, sebagaimana utusan yang dikirim ke Anthakiyah berkata, "Malapetaka ditimpakan kepadamu akibat perbuatanmu sendiri!" Dinanti maupun tidak, manusia menentukan nasibnya sendiri. Kita adalah alam bagi diri kita sendiri sekaligus pelaku dalam alam tersebut. Kita masing-masing adalah pusat alam karena setiap makhluk di dunia nyata ini berhubungan dengan kita. Dunia kita sesuai dengan apa yang pantas kita terima. Tak semua orang mampu memahami hal ini, tak semua orang dapat menerima risalah ini. Oleh karena itu, jika telah menerimanya, selamilah kedalamannya. Rintangan-rintangan menuju pandangan yang menyeluruh sesuai keadaan seseorang; ketebalan, kekuatan, kedalaman rintangan itu sesuai dengan besar-kecilnya harapan, kehendak, ketakutan, dan kegelisahan orang yang bersangkutan. Dengan kata lain, rintangan itu berbanding terbalik dengan kemurnian penyerahan diri kita kepada Tuhan Yang Maha-wujud.
Kita juga telah melihat dalam surah ini bahwa persyaratan seseorang untuk dapat menyampaikan pengetahuan yang benar yaitu ia tidak boleh mengharap balasan dari siapa pun. la juga harus memiliki pengetahuan mengenai faktor-faktor dasar yang melandasi realitas dalam kehidupan ini. la haruslah seorang yang telah dicerahkan dan telah sadar diri.
Seiring kita melangkah, kita tahu bahwa rasa takut (khasy-yah) merupakan akibat dari kebimbangan, ketidak-tahuan batas-batas perilaku. Dengan mengamalkan Islam, rasa takut dapat diubah menjadi tingkatan "iman" yang lebih tinggi, yaitu "yakin" tentang hakikat Yang Mahawujud. Dari keyakinan ini lahirlah "takwa", karena sekali seseorang merasa yakin maka ia tidak akan pemah ingin melangkah keluar dari batasan-batasan tersebut. Orang yang telah mengikuti jalan risalah kenabian dan dari hal yang kasar ke yang halus; pertama-tama muncul kesehatan badan, lalu pikiran, kemudian akal dan akhirnya jiwa.
Dalam surah Yasin juga ditegaskan bahwa kitalah yang menentukan nasib kita sendiri. Yang Mahawujud berkata, "Dan Kami tidak menurunkan kekuatan atau malaikat yang tidak terlihat dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya." Surah ini menegaskan bahwa niat dan amal kitalah yang menentukan hasil akhir kita. Jika amal kita jelek, karena amal tersebut tidak mengikuti arus hukum alam yang berlaku, berarti kita telah mengundang malapetaka atas diri kita sendiri.
Alam ini luas dan mengagumkan. Kita semua adalah gaung Dentuman Besar. Seluruh alam meledak menjadi besar, jadi jika kita sendiri tidak tumbuh dalam kenikmatan batiniah, kita akan jatuh sakit, karena kita tidak mengikuti ketetapan alam. Jika kita tidak membuyarkan khayalan kita, maka kita tidak akan bisa larut dalam kebahagiaan yang luas, abadi, dan besar.
"Mata air yang dari padanya hamba-hamba Allah mi-num, sambil mengalirkannya sepuas-puasnya" (76:6). Inilah makanan sesungguhnya untuk hati. Jika kita tidak meng-gaungkan proses perkembangan alam dalam diri kita, maka kita akan tertindas dan tertekan, kita akan tersesat dan hancur di jalan yang salah. Contoh jelas adalah kehancuran kaum di kota Nabi Luth. Mereka homoseks, rusak moral, menuruti nafsu a-susila dan melakukan perbuatan yang tidak wajar. Karena cara alam adalah membesar, ini untuk mengatakan, keteraturan alam disebabkan karena perkembangannya, maka energi kaum Luth yang bertentangan (dengan alam) dan meresahkan itu mempengaruhi kondisi di sekeliling mereka yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran mereka. Pola perilaku yang mereka pilih bertentangan dengan alam, dan energi itu sendiri menyebabkan bencana alam yang akhirnya membinasakan mereka. Alam hanya menegaskan kelaliman mereka atas diri mereka sendiri sejajar dengan keterasingan batiniah. Ini bukan takhayul; ini adalah tauhid. Kita tidak terpisah dari alam; perbuatan kita mempengaruhi seluruh alam karena kita berinteraksi dengannya. Rahasia seluruh amal kita terletak dalam niat kita.
Dalam Alquran kita mendapatkan bahwa amal baik yang dilakukan dengan niat ikhlas, tanpa mengharapkan balas jasa, akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda. Amal jelek, sebaliknya, menghasilkan balasan yang nilainya setimpal. Sungai amal yang kita alami seiring bergulimya waktu, mengalir menuju arah tertentu. Apa pun yang jatuh ke dalam arus tersebut mengalir selaras dengan arah arus dan semakin lama menjadi semakin besar. Jika kita berbicara searah dengan arah angin, misalnya, suara kita akan bertambah nyaring. Sebaliknya jika kita berbicara berlawanan dengan arah angin, maka suara kita akan lenyap. Angin takdir membawa beraneka ragam berkah Allah. Apa pun yang bergerak searah angin sepoi-sepoi ini berada dalam satu berkah bersama dengan ketetapan dan akan tumbuh serta bertahan.
Hukum-hukum yang mengatur kehidupan, cepat atau lambat, akan menimpa kita jika kita melanggarnya baik karena kecerobohan kita atau karena kebodohan kita, baik sadar maupun tidak; tugas kita adalah mengetahui hukum-hukum tersebut, mengetahui di mana seharusnya kita menarik garis dan mengatahui bagaimana caranya kembali ke jalan yang lurus. Dikatakan bahwa jalan lurus (ash-shirath al-mustaqim) lebih tajam dari mata pedang Damaskus. Yang dimaksud dengan ketajaman di sini adalah kesadaran, kesadaran yang terus, abadi, bersinar untuk kepentingannya sendiri, bukan kesadaran terhadap keadaan yang diciptakan secara khusus. Untuk memulainya, seseorang harus sadar tentang satu hal atau hal lainnya, namun kesadaran tentang sesuatu, pada dasarnya, merupakan kelalaian, karena kesadaran terhadap sesuatu mungkin menyebabkan terlupakannya hal lainnya. Bagaimanapun, jika seseorang selalu sadar diri, berarti ia terbuka dan tersedia. Pada keadaan ini, ilmu yang ia perlukan pada situasi apa pun akan secara otomatis terwujud.
Sebagai makhluk yang berperilaku di dunia ini, kita berusaha untuk bersatu secara batiniah untuk mernperoleh jalan masuk ke ilmu yang bermanfaat, ilmu yang berasal dari kesadaran spontan, ilmu yang membantu kita di medan amal, sehingga kita dapat terus bergerak menuju keselamatan. Meskipun kita terlahir bebas, tidak rrunta untuk hidup, dan kita mati tanpa mengetahui sebelumnya, di mana, kapan, atau dalam situasi bagaimana, namun, di antara dua peristiwa besar ini, kita mendapatkan diri kita terikat oleh belenggu harapan dan hasrat. Semakin kita terbelenggu secara lahiriah, semakin kita memperlihatkan kesombongan lahiriah untuk mempertahankan bangunan rapuh yang telah kita bangun. Sebenarnya tujuan perjalanan hidup ini adalah berserah diri (Islam) dan melarutkan diri dalam satu kesadaran penuh. Ketika seseorang melepaskan kesadaran gerak dan gaya hidup rendahnya menuju kesadaran yang lebih tinggi, maka kesadaran tinggi itu akan segera muncul.
Dengan cara yang sama, kita bergerak dalam waktu, kita juga bergerak dalam pemahaman, dari satu pemahaman menuju pemahaman lebih baik, dalam satu rangkaian yang abadi, yang selalu bertambah. Jika cukup peka, kita akan mendapatkan hikmah di setiap nafas dan di setiap peristiwa yang terjadi di hadapan kita. Tetapi, umumnya, kita tidak peka. Jika kita tidak menangkap hikmah tersebut ketika peristiwa teijadi, maka hikmah tersebut akan berlalu dan kita membiarkannya begitu saja. Di setiap saat, di setiap desahan nafas, Allah menganugerahkan hikmah kepada kita untuk menunjukkan keseimbangan seluruh ekologi dalam satu kesatuan hidup ini.
Ekologi tak sebatas hak milik kita, tak sebatas perbatasan suatu negara, atau sebatas pemukaan kulit tubuh kita. Ekologi bersifat multidimensional dan universal. Tiap-tiap kita mempengaruhi ekologi alam dan dunia secara keseluruhan, demikian pula sebaliknya, saling pengaruh-mempengaruhi. Tidak ada pemisahan. Pemisahan hanya ada dalam kaca mata biologi perorangan, karena sel-sel tertentu dilindungi oleh kulit. Kulit pun tetap bernafas dan hidup. la dipengaruhi oleh atmosfir yang mengelilinginya, sebagai-mana suatu benda dipengaruhi oleh benda yang mengelilinginya. Dunia adalah transaksi ekologi total yang di dalamnya dibangun sistem batasan-batasan alam berdasarkan realitas yang tak ada batasnya. Batasan bermakna karena adanya ketiada-batasan. Kekayaan alarn hanya dapat dinikmati jika kita membatasi diri dalam penggunaannya.
Cara untuk membuka tabir makna kehidupan untuk menangkap hakikat hidup adalah seperti kita menguliti bawang. Makna kehidupan dikodekan dalam gen-gen kita, namun untuk membaca kode genetik ini, kita harus melihat permukaan yang berlapis-lapis dari kehidupan ini. Tiap lapis merupakan dunia tersendiri. Dunia-dunia ini adalah apa yang telah kita berikan realitas obyektif dan makna kepadanya. Ketika kita mengupas kulit terluar sebutir bawang, terlihatlah lapisan kedua, lalu lapisan selanjutnya, dan seterusnya hingga ketika kita sampai pada hati bawang tersebut dan membuka lapisan terakhir, yang tersisa hanya-lah ruangan kosong. Ruang ini juga apa yang ada di luar bawang, dan pada saat yang sama, bawang tersebut ditembus oleh ruang, sama seperti kita, diternbus oleh Yang Mahawujud. Di sana yang ada hanyalah Yang Mahawujud.
Benda memiliki perwujudan material hanya karena adanya kemampuan imajinasi dari akal yang memungkinkan kita untuk memadatkan objek-objek. Pada kenyataannya, dunia adalah ruangan, namun ia lebih dinamis dan berubah-ubah. Tentu saja, dunia sehari-hari kita yang berupa benda-benda padat benar-benar ada. Bagaimanapun, kehidupan ini hanyalah kehidupan sekunder. la hanyalah bayangan atau dokumen tulisan tangan dari kehidupan yang hakiki.
Dalam diri kita terkandung makna kehampaan, ketiada-batasan sekaligus pula makna keberwujudan dan keterbatasan. Biasanya kita lebih banyak memperlihatkan keterbatasan dan ketergantungan, yang menyulitkan kita. Inilah penyakit manusia di alam ini. Tujuan kita hadir dalam dunia ini adalah untuk keluar dari kesulitan ini, dengan mengakui Yang Maha Esa-Mahawujud. Kehidupan juga ddaklah berakhir dengan hancumya dunia. Semua Nabi berusaha menyampaikan kepada manusia bahwa Tuhan ada pada saat sekarang, dulu, dan akan terus ada, dan bahwa karena kita berasal dari Tuhan, dalam diri kita terkandung potensi untuk menyadari makna ketiada-terbatasan Allah, kemuliaan yang tak ada bandingannya. Jika kita memusatkan perhatian kita pada akhir yang lebih tinggi, kita akan melihat hubungan diri kita dengan tauhid. Dari tauhidlah kita berasal dan dengan tauhid pula kita menyatukan lahir dan batin kita secara sadar. Kita adalah ruang antara (barzakh) yang tinggi dan yang rendah, dunia yang fana ini dan akhirat yang kekal. Dengan beralih ke yang tinggi, maka yang rendah disucikan dan diubah.
Sebaliknya, dengan beralih ke yang rendah, maka yang rendah itu diperbesar dan yang tinggi menjadi kabur, "Orang-orang yang tidak memberi persaksian palsu, dan apabila mereka berpampasan dengan hal yang tidak berfaedah, mereka lalui saja dengan tetap menjaga kehormatan dirinya" (25:72).
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang kesadarannya terbentang di antara dua dimensi. Kebimbangan muncul dalam hidup ini karena adanya paradoks yang nyata yaitu di satu sisi kita terbatas dan terus mendekati kubur seiring desahan nafas kita, di sisi lain kita ingin kekal. Pada saat kita mencari kekayaan, cinta, ilmu, atau kebahagiaan, sebenamya kita mencari kualitas keabadian, karena kita menggaungkan keabadian dalam diri kita.
Alquran menegaskan bahwa Allah Maha Meliputi se-gala sesuatu. Ini berarti bahwa segala sesuatu diserap dalam ke-Ilahian. Karena alam didasarkan dan diseimbangkan oleh hal-hal yang berlawanan, maka kita tidak akan mampu menyadari batasan-batasan pelanggaran dan tak akan mengerti ke-Ilahian yang meliputi segala hal, tanpa kehadiran perbuatan salah dan dosa. Manusia menimbulkan akibat dalam situasi tertentu sesuai perbuatan yang dilakukannya dalam konteks situasi tersebut. Perbuatan manusia menyediakan pasak yang memaku seluruh urusan menjadi satu.
Jika kita tidak memiliki harapan dan hasrat, maka kita akan lebih bebas dibandingkan burung. Kebanyakan orang biasanya bereaksi. Karena kita memiliki serangkaian keinginan masing-masing, maka setiap kita bereaksi sesuai dengan kekuatan-kekuatan yang mendorong kita dan sesuai dengan rangsangan yang datang dari luar, yang pada gilirannya menghasilkan akibat karena interaksi kekuatan dan rangsangan itu dengan kepribadian khusus kita. Jika tidak ada kepribadian, sebagaimana dilambangkan dalam posisi sujud (sajdah) dalam salat, yang jika dilaksanakan dengan konsentrasi penuh mengakibatkan lenyapnya hawa nafsu, berarti seseorang berada di jalan kebebasan. Tentu ini tidak berarti bahwa kita tidak membedakan antara hal yang baik dengan hal yang buruk dalam dunia lahiriah ini.
"Dan sesungguhnya kamu akan memperoleh pahala yang tidak putus-putusnya" (68:3). Jika hati kita hidup dan suci, dengan ikhlas kita menjadikan hidup sebagai sebuah perjuangan di jalan Allah, maka seluruh hidup kita adalah kebahagiaan. Kita akan dikelilingi oleh orang-orang yang berpandangan serupa yang menggaungkan pandangan ini. Namun, jika kita egois dan takut, kita akan berteman dengan orang-orang dari gaung yang sama. Orang-orang yang memiliki persamaan dalam suatu hal biasanya berkumpul bersama; hal ini merupakan hukum alam, ini merupakan sunatullah yang tak pernah berubah dalam alam ini dan kita tidak dapat lari darinya.
Kebebasan tak akan ada dalam kehidupan ini tanpa disertai kendala. Kesehatan tidak dapat dirasakan tanpa adanya penyakit. Kebebasan dalam arti abstrak tidak ada. Ungkapan "kepercayaan mengikat orang-orang yang merdeka" (ats-tsiqah witsaq al-ahrar) berarti adab dan batasan-batasan lahiriah menjamin adanya kebebasan dan keselamatan batiniah.
Jika kita mencari kebebasan, carilah sampai ke akar-akarnya yang terletak pada lawannya, yaitu dalam penghambaan diri (kepada Allah). Hukum tentang hal-hal yang beriawanan selalu berlaku. Kita harus percaya bahwa meskipun kita tidak memahami hukum-hukum tersebut sekarang, kita kelak akan mengetahuinya juga. Ini merupakan satu aspek dari iman.
Allah memanifestasikan dirinya dalam hukum-hukum alam, karena hukum-hukum ini mempakan hukum yang seragam, berlaku kepada semua makhluk. Jika seseorang mengklaim diri sebagai bijak ('arif), atau tercerahkan, kita beranggapan berarti orang tersebut mengetahui hukum-hukum alam. Namun, hukum-hukum alam ini berasal dari luar alam dan lebih berkuasa dari alam itu sendiri, kalau tidak tentu alam tidak bisa diikat oleh hukum-hukum ini. Makna sebenarnya dari ‘arif adalah penyerahan diri secara total. Orang arif, dengan pengetahuan dirinya, mengetahui apa yang perlu diketahuinya pada saat ia membutuhkannya. Jiwa ego atau nafs orang arif ini tidak mengubah kapasitasnya untuk menerima hidayah. Dia benar-benar berserah diri. Jadi, secara otomatis dan secara sempurna ia diperbaiki.
Pada surah ini, makna surga (jannah) diperjelas. Surga adalah keadaan yang rahasia dan tersembunyi, tempat di mana hati merasa tenteram, sebagai balasan dari penyerahan diri yang sejati. Namun penyerahan diri ini tidak berarti penyerahan diri secara fisik, dengan membiarkan keluarganya miskin-melarat atau tak memperdulikan pakaian atau perilakunya kepada sesama manusia. Bahkan jika seseorang pergi ke sebuah gua di gunung, ia akan mendapatkan bahwa pikirannya masih diganggu. Penyerahan diri sejati datang secara bertahap dengan menghadapi tanggung jawab secara berani, dengan melakukan yang terbaik dan tidak terjerat cinta lahiriah serta tidak berhasrat akan balasan amalnya. Semua dilakukan di jalan Allah (fi sabil Allah). Dari sudut pandang ini, suatu amal seperti pernikahan hanya bermanfaat dalam perjalanan hidup ini jika masing-masing pasangan berniat dalam hati membantu pasangannya untuk menyadari kebebasan dan kepuasan batiniah. Pernikahan adalah ibadah, demikian pula seharusnya perbuatan lainnya. Tak ada yang salah sama sekali dengan kegelisahan dan nafsu. Tanpa nafsu dalam hidup ini, tak akan ada hasrat. Namun nafsu seseorang haruslah untuk ilmu, untuk Allah, karena hidup seluruh manusia bergantung pada Allah Yang Maha Mandiri. Alihkan cinta terhadap makhluk kepada cinta terhadap Sang Pencipta.
Kesesuaian yang sesungguhnya terjadi kira-kira ketika seorang pria dan seorang wanita dengan tulus ingin bekerja sama dan saling melayani satu sama lain untuk memperoleh kebenaran, pengetahuan, dan kebebasan batiniah. Kebebasan batiniah tidak dapat diraih tanpa adab dan penghonnatan lahiriah. Kita tidak dapat tumbuh secara batiniah kecuali kalau kita membatasi diri kita secara lahiriah. Jika seseorang menginginkan kebebasan batiniah, ia harus menjalani batasan lahiriah. Tidak benar jika dikatakan kebebasan lahiriah itu berubah-ubah. Kebebasan lahiriah hanya menyebabkan kekacauan, baik lahir maupun batin. Maka semakin dekat seorang pencari ilmu kepada ilmu Allah, semakin lebih terbatas perbuatannya. Harapannya adalah bertindak dalam batas-batas yang diperbolehkan. Hatinya membawa kepada tujuan, namun agar hati sampai kepada keadaan yang layak, hati butuh dihubungkan dengan hal yang selaras.
Segala sesuatu dalam alam diatur menurut hukum alam, dan Sang Pemberi hukum itu adalah Allah. Pintu menuju Allah adalah dengan memahami dan mengikuti hukum-hukum-Nya baik secara lahiriah maupun batiniah. Orientasi lahiriah saja tidak cukup. Pola luar hanya menyediakan petunjuk-petunjuk dan informasi, bukan ilmunya itu sendiri. Seorang guru sufi bertugas membuka kulit kebodohan yang menutupi diri sang murid. Sang guru hanya membersihkan karat-karat yang telah menutupi sumber cahaya yang terdapat dalam hati sang murid. Guru sufi tak memberi apa pun; ia hanya melepaskan sesuatu. Allah berfirman dalam hadis qudsi, "Aku tidak berada di langit maupun di bumi, tetapi Aku berada di hati orang yang beriman."
Jadi inilah obat yang kita peroleh dari surah Yasin. Mereka yang belum mendapatkannya dalam hidup ini pada akhirnya pun akan mendapatkannya ketika mati. Itulah mengapa surah ini dibaca ketika seorang muslim meninggal, dengan harapan jiwa (ruh)nya ingat atau bergaung dengan realitas asalnya serta berzikir terhadap apa yang telah mendarah daging dengannya.
Hidup yang singkat ini hanya sebuah mata rantai dari rantai kehidupan. Sebelum kehidupan dunia ini, ada suatu pola kehidupan; setelah kehidupan dunia ini pun, ada pola kehidupan lain. Periode sembilan bulan dalam kandungan menghubungkan kita dengan alam ini. Tidur setelah mati, yang dilukiskan oleh ayat, "Siapakah yang membangunkan kami dari tempat tidur kami" (36:52), menghubungkan kita dengan alam kemudian. Apakah orang ingat jelas pengalam-an ketika dalam kandungan? Demikian pula, kita tidak dapat membayangkan keadaan yang belum dialami ini yang akan menjadi tempat kembali kita.
Ketidakmampuan mengingat apa yang telah terjadi (di alam rahim) atau mengetahui keadaan hidup setelah mati membuat orang yang suka merenung menjadi kagum karena setiap orang dengan akalnya selalu bertanya apa sebenarnya makna hidup dan mati. "Mengapa saya tidak bahagia? Mengapa saya tidak puas? Mengapa saya tidak bebas secara batiniah?" Membuat kita gelisah adalah juga bagian dari rahmat Allah. Adalah kehendak Allah bahwa kita harus mengenali-Nya yang menggangu kita dan oleh karenanya mengeluarkan kita dari kelesuan fisik dan hewani kita. Setiap problem yang kita hadapi adalah benar-benar pemberian dari Allah kepada kita.
Hamba Allah berdoa kepada Tuhannya, "Berilah aku tanggung jawab sehingga aku maju dan dewasa dalam hidup!" Ketika problem ditangani secara lahiriah dengan sikap positif, maka terjadilah gerak rohani. Seluruh hidup ini hanyalah drama pertunjukan, dan semua makhluk adalah pemeran-pemerannya. Cara menghentikan drama ini adalah dengan berhenti berakting, apa pun peran yang ia pikir menjadi tugasnya serta dengan melakukan tindakan yang pantas dan dengan memikul tanggung jawab demi kepen-tingan Allah (fi sabil Allah) tanpa motif pribadi apa pun. Dengan cara ini, ia terhindar dari semakin menebalnya lapisan-lapisan khayalan. Cara terbaik mengatasi khayalan dan anggapan serta selubung serupa lainnya adalah dengan menghadapi situasi-situasi di jalan Allah tanpa mengharapkan balasan apa pun. Peristiwa-peristiwa dalam hidup terjadi laksana pahat-pahat yang membuka lapisan-lapisan kayu. Pada akhirnya, ia mengetahui bahwa apa yang ada di tengah-tengahnya telah berada di sana selamanya.
Sebenarnya kita hanya memiliki kewajiban-kewajiban dalam hidup ini, tanpa memiliki hak. Kita hanya mempunyai tugas-tugas. Kita menghabiskan oksigen dalam jumlah besar. Setiap beberapa tahun masing-masing kita mengkonsumsi berton-ton oksigen. Pertanyaannya adalah: Sudahkan kita mengkonsumsinya dalam rangka memadamkan harapan-harapan dan nafsu-nafsu kita, dan dalam rangka menemukan jalan menuju kebebasan batiniah? Jika belum, berarti kita hanya menghabiskan pemberian alam ini dengan sia-sia. Demikian pula dengan berton-ton makanan yang kita konsumsi. Apakah kita memberi makan kepada tubuh kita agar memperoleh kekuatan untuk mengetahui Realitas Tuhan di setiap keadaan dan manifestasi?
Pemberantasan kebodohan mempakan syarat awal bagi pencerahan. Jika tabir ini tidak dihilangkan dalam hidup ini, ia akan dihilangkan pada saat kematian. Pada hari kebangkitan "tak ada seorang pun yang dirugikan" karena beramal tak mungkin lagi dan setiap kita akan bertanggung-jawab terhadap amalannya masing-masing. Waktu dan gerak akan dibekukan dan jiwa akan merefleksikan apa yang telah diperbuatnya. Pada saat itu, jiwa akan mengungkap apa yang telah dilukis di atasnya ketika di dunia. Tak ada yang dapat ditambahkan atau dikurangi. Jika seseorang telah menggaungkan suara hati yang mumi, di kehidupan nanti suara ini akan selalu terdengar di surga Allah. Sebaliknya jika jiwa ini serupa disket rusak, penuh dengan kesombongan, kebodohan, dan kebimbangan, suara itu akan terdengar sesuai mutu yang jelek ini. Di Akhirat, jiwa mendengungkan tingkat prestasinya ketika hidup di dunia.
Kunci untuk membersihkan hati dari kebodohan adalah kesadaran spontan terhadap niat. Dengan cara ini niat seseorang selaras dengan amalnya. Ini mempakan stasiun kebebasan melalui penyerahan diri dan kehadiran hati. Inilah tauhid dan ikhlas.
Milikilah keinginan untuk mati, maka kamu akan hi-dup! Milikilah keinginan untuk bersedekah, maka kamu akan mendapatkan apa yang kamu ingin sedekahkan itu. Di balik semua keragaman ini, ada satu kesatuan. Setiap orang mengandung kesan kromosom yang di dalamnya terdapat hukum-hukum yang mengatur Seluruh alam. Inilah "aku" yang sesungguhnya. Alquran ada dalam diri kita, namun untuk mendapatkannya kita harus menceburkan diri dan larut di dalamnya hingga kita menyadari bahwa segala sesuatu telah ditetapkan, bukan diselesaikan, karena sebenamya memang tidak ada masalah yang harus diselesaikan. Tak ada tuhan selain Allah! Ketahuilah hakikat hidup maka kamu akan mendapatkan kebebasan. Sebenarnya kita sendirilah yang membuat sangkar-sangkar kita, jadi hanya kita yang dapat membukakan sepenuhnya, dengan cara mengubah amal-amal kita kepada amal yang ikhlas dan bebas, tanpa rasa takut dan dengan penuh keberanian.
Apabila seseorang memahami sepenuhnya suatu ayat Alquran, maka berarti ia telah memahami seluruh Alquran. Seluruh perumpamaan (amtsal) dalam Alquran mendengungkan kebenaran, maka mengapa tidak menceburkan diri dalam Kebenaran? Kita dan tempat bercebur kita tidaklah terpisah. Surah Yasin menekankan bahwa mereka yang telah memperoleh surga disibukkan oleh sebuah urusan yang murni. Mereka tidak memiliki urusan kecuali pemuasan diri sendiri. Dalam Alquran, perumpamaan digunakan untuk menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilukiskan, karena bahasa bergerak dalam alam dualitas, alam sebab-akibat, alam isi dan wadah. Perumpamaan secara mengesankan dapat membawa seseorang berkeliling menaiki perahu hikmah ke tepian perenungan, di mana ia harus melemparkan semua kekangan dan melakukan langkah-langkah seperlunya menuju lautan tak bertepi.
Di antara perumpamaan yang sering digunakan berulang-ulang terhadap Surga yang tinggi adalah pasangan-pasangan, buah, ranjang, dan naungan. Segala sesuatu di alam terjadi karena berpasang-pasangan. Penyatuan baru dapat terjadi jika ada pasangan, yang merupakan alasan simbolik untuk pemikahan. Naungan dianggap sebagai sebuah aspek alam yang sangat diinginkan, khususnya di lingkungan padang pasir, karena ia menawarkan kelapangan hati dan tempat perlindungan diri yang aman. Kapan pun kita menemukan ayat-ayat tentang berbaring di atas ranjang atau bantal, maka makna jenis duduk semacam ini dapat disimpulkan. Bantal tidak memiliki makna dalam dirinya, namun duduk di atas bantal atau berbaring di atas ranjang di bawah naungan, bermakna bahwa seseorang berada dalam keadaan santai. Badan dilupakan hingga tingkat tertentu, sehingga kesadarannya memiliki kesempatan untuk tidak terlalu berodentasi kepada fisik, sehingga ia dapat pergi ke alam makna. Kita menetralkan hal-hal material dan fisik untuk mencapai makna batiniah.
Apa pun yang kita hasratkan hanya isapan jempol dari khayalan kita. Dengan membuat jaringan kita sendiri, kita telah mencurahkan waktu dan energi kita dalam jaring tersebut: "Dan sesungguhnya rumah yang paling rapuh adalah jaring laba-laba jika saja mereka mengetahui!" (29:41). Jika seorang pencari ilmu yang ikhlas mampu meraih apa pun yang ia inginkan dalam hidup ini, apa pun bentuknya, pada akhirnya ia akan sampai ke sebuah titik di mana ia sudah tidak menginginkan apapun, karena apa pun yang ia inginkan telah tersedia. Setelah perenungan yang sesungguhnya ia akan sampai ke titik tanpa keinginan. la tahu apa pun yang ia inginkan telah disediakan untuknya, semua buah-buahan yang membuatnya merasa lapar, telah ada di sana, dan akibatnya ia tidak memiliki keinginan apa pun lagi. Inilah makna gambaran tentang kepuasan di Taman Surga.
Perintah-Nya sangat sederhana. Hanya jadilah (kun), maka seluruh alam akan terwujud (fa yakun). Ilmu dan kepuasan terkandung di dalamnya. Dalam lahir maupun batin yang ada hanyalah rahmat dan keberkahan. Jika seseorang mencari keharmonisan dan keberkahan lain, hal ini karena pandangannya yang menyimpang, karena jaringnya yang telah memisahkan dirinya dari daya jangkau jaringnya,, Keadaan Surga yang tinggi ini damai, tenteram, bahagia dart' puas terus-menems, kedamsstian yang telah dijanjikan oleh Tuhan Maha Pemurah. Dan Allah Maha Mengetahui.[]