| Back | Index | Next |
28. Mengapa engkau kafir kepada Allah, padahal engkau tadinya mati, lalu Allah menghidupkanmu? Kemudian, engkau dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, lalu hanya kepada-Nya engkau kembali.
Secara fisik, kita hanyalah benda mati yang dihidupkan sementara dengan roh dari Allah. Tetesan air dalam samudra itu tidak terpisah dari samudra itu sendiri. Namun, supaya dapat mengenali sumber kehidupan itu, kita harus menyerahkan identitas kedirian kita melalui pintu kematian. Kehidupan baru akan dimulai, melampaui ruang dan waktu.
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
29. Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di Bumi untukmu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikannya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah menciptakan Bumi untuk makhluk termulia: manusia. Tahapan selanjutnya adalah menciptakan langit, berlapis-lapis banyaknya di atas kita. Langit yang memuat segala bintang, galaksi, dan benda angkasa lainnya, adalah langit yang paling rendah.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka Bumi." Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan di Bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui."
Malaikat adalah energi atau entitas yang tidak memiliki kebebasan merrdlih dalam menjalani kehidupan mereka di bawah hukum-hukum penciptaan. Para malaikat adalah entitas yang hanya mempunyai satu pikiran, yaitu taat kepada Allah. Energi kemalaikatan dirancang untuk mengatur aspek penciptaan tertentu, dan mereka tidak memiliki kemampuan kesadaran untuk melawan tugas itu. Kemampuan itu adalah milik manusia.
Khalifah Allah diberdayakan untuk bertindak dalam ketidakhadiran semu sang pemilik atau sang pengendali. Dalam kasus manusia sebagai khalifah Allah, maka malaikat mempertanyakan keputusan Allah untuk menempatkan Adam di Bumi. Meskipun para malaikat itu suci dan terlepas dari dosa, namun di saat yang sama mereka juga memiliki keterbatasan. Sedangkan manusia, meskipun tidak terlepas dari dosa, namun ia memiliki potensi tak berbatas, potensi yang mencerminkan kehendak dan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Para malaikat pun terkejut dengan potensi manusia untuk berkreasi dan menghancurkan, taat dan membangkang, serta untuk beriman dan kafir. Karena para malaikat tidak memiliki kemampuan untuk membangkang, maka pertanyaan mereka tentang kemungkinan kerusakan dari manusia yang dapat memilih antara baik dan buruk itu adalah pertanyaan yang wajar.
وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malikat, lalu berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika engkau memang orang-orang yang benar."
Nama-nama (asma) memiliki makna ilmu atau pengetahuan. Allah memberikan Adam (berkaitan dengan adim yang memiliki arti debu di permukaan Bumi) segala pengetahuan tentang sifat-sifat dan tindakan-tindakan di dalam dunia penciptaan, yang mana sifat dan tindakan itu dilambangkan dengan nama-nama tertentu. Nama-nama itu kemudian ditunjukkan kepada para malaikat yang, karena keterbatasan mereka, tidak dapat memahaminya. Dalam pengetahuan itu ada kemampuan bawaan untuk membedakan antara kasih sayang dan siksaan, yang mana disimbolkan dengan "rahman" dan "syaithan." Jadinya, penciptaan manusia dalam dirinya sudah mengandung petunjuk arah bawaan untuk memandu manusia pergi menuju Allah.
قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
32. Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketabui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."
Mendapat tantangan tersebut, para malaikat terpaksa mengakui keadaan mereka dan menerima kenyataan bahwa pengetahuan mereka sangat terbatas.
قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّا أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَ أَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
33. Allah berfirman, "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka, setelah diberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, "Bukankah sudab Kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan Bumi dan mengetahui apa yang engkau sembunyikan?"
Adam kemudian diperintahkan untuk memberitahukan pengetahuannya, sehingga dengan bukti-bukti itu para malaikat pun menjadi semakin yakin dengan kasih sayang, kekuasaan, dan kebijaksanaan mutlak Allah.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
34. Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kalian kepada Adam," maka sujudlab Mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Sesudah itu, para malaikat pun diperintahkan bersujud untuk mengakui keunggulan makhluk baru, yaitu Adam. Iblis (berasal dari kata ablasa yang memiliki arti larut dalam kesedihan atau keputusasaan) menyimpang dari aturan yang ada serta dengan sombong dan angkuhnya mengingkari Sang Maha Meliputi.
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الْظَّالِمِينَ
35. Dan Kami berfirman, "Hai Adam, tinggalah engkau dan isterimu di surga ini, dan makanlah makanan yang banyak dan baik di mana saja yang engkau sukai, dan janganlah engkau dekati pohon ini yang menyebabkanmu termasuk orang-orang yang lalim."
Kisah Adam adalah kisah penciptaan. Bersama lawan jenis dan teman hidupnya, Hawa, Adam dipersilakan tinggal dalam surga tanpa kesusahan apa pun. Hanya satu daerah yang tidak boleh didekati, suatu daerah yang tidak termasuk dalam sifat surga abadi: pohon nafsu kedirian, atau keduniawian.
Surga hanya bermakna jika lawannya—pohon busuk godaan yang melambangkan keserakahan serta melambangkan munculnya benak yang berhasrat dan selalu mempertanyakan—juga ada. Jadi, Adam hams menggunakan akalnya untuk mengorganisir pengetahuannya dan mulai belajar membedakan. Inilah ujian dan cobaan pertamanya. Pohon itu menyimbolkan kegelisahan dan gangguan (kata Arab untuk pohon, syajar yang mirip dengan kata syijar yang memiliki arti bertikai), karena dalam surga yang penuh kedamaian di mana segala sesuatu yang diperlukan ada di sana, Adam masih saja berkeinginan mendapatkan yang lebih, keinginan yang dibangkitkan oleh kekuatan setan untuk mempengaruhinya.
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَ قُلْنَا اهْبِطُواْ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ
36. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, "Turunlah engkau! Sebahagian darimu akan menjadi miisuh bagi yang lain, dan bagimu ada tempat kediaman di Bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."
Seperti yang kita lihat, kata syaithan itu diturunkan dari akar kata syathana yang berarti menyimpang atau tersesat jauh. Setan menggelincirkan Adam dari keadaan yang penuh rahmat di surga. Akibat nafsu Adam untuk mendapatkan buah pohon terlarang itu, terjadilah pertentangan dan guncangan di surga yang penuh kedamaian itu. Karena energi pemberontakan dan keputusasaan Iblislah, Adam dan Hawa terperosok dari keadaan damai nan tenteram ke dalam dunia dualitas, dunia yang penuh dengan keraguan dan ilusi, dunia di mana hukum-hukum pertentangan berperan penuh. Dalam percampuran antara kedamaian dan pertentangan, cinta dan benci ini, pengetahuan tentang jalan yang lurus dapat dibangkitkan kembali, sehingga ia bisa mendapatkan kembali akses ke surga (dalam/batin), suatu akses yang didapatkan sebagai ganjaran, baik terhadap pilihan sadar seseorang untuk berpasrah, serta bertindak di jalan Allah.
فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Dengan kemampuannya mengetahui nama-nama benda, Adam dapat menyadari kesalahannya, sehingga Sang Maha Pengasih pun menyelamatkannya. Maka, Adam menganggap firman-firman yang diterimanya sebagai penerimaan atas tobatnya, dari pengalaman tauhid yang asli ke kesadaran akan pemisahan dan dualitas, untuk kemudian kembali kepada tauhid melalui perbuatan baik, tobat, dan ketundukan yang dipilih dengan bebas dan sadar.
قُلْنَا اهْبِطُواْ مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
38. Kami berfirman, "Turunlah engkau semua dari surga itu' Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati."
وَالَّذِينَ كَفَرواْ وَكَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
39. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka dan kekal di dalamnya.
Manusia itu pada dasarnya tidak menyukai kesusahan atau kedukaan. Dengan mengikuti petunjuk fitrahnya, maka ketakutan, keraguan, kedukaan dan ketidakpastian akan hilang. Orang-orang kafir yang mengingkari eksistensi petunjuk yang lurus, serta mengingkari kemungkinan untuk menggapainya, akan selalu gelisah dan terganggu oleh api yang mereka ciptakan sendiri.
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُواْ نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُواْ بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ
40. Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku engkau harus takut.
Secara historis, nikmat di sini adalah keselamatan Mereka dari kekuasaan Fir'aun. Allah berfirman, "Berimanlah kepada Sang Pemberi Nikmat, maka engkau akan dibalas. Selalu berzikir, menjaubi dosa serta menjauhi pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah! Jangan melanggar hukum-hukum yang mengatur penciptaan. Apa yang engkau perbuat pada orang lain, itulah yang akan kembali kepadamu."
وَآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ
41. Dan berimanlah engkau kepada apa yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa yang ada padamu, dan janganlah engkau menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah engkau menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah. Hanya kepada Akulah engkau harus bertakwa.
Ayat ini secara khusus ditujukan pada anak-anak Ya'qub, Bani Israel, supaya mereka membenarkan Alquran seperti halnya mereka membenarkan Taurat. Jika mereka betul-betul berusaha mencari Allah dan ayat-ayat-Nya, maka para pengikut kitab suci terdahulu akan menemukan ayat-ayat kebenaran dalam kitab ini: Alquran.
وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
42. Dan janganlah engkau campur adukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah engkau sembunyikan yang hak itu, jika memang engkau mengetahui.
وَأَقِيمُواْ الصَّلوةَ وَآتُواْ الزَّكَوةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ
43. Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.
Menutupi pengetahuan tentang kebenaran adalah kufur, yaitu mengingkari kenyataan. Jika seseorang memiliki pengetahuan kebenaran, namun ia tidak mau bertindak sesuai dengannya, maka dia akan berada dalam api neraka, baik di sini maupun di akhirat nanti. Perintahnya adalah bahwa seseorang harus menceburkan diri dalam kelompok penyembah Tuhan, yaitu orang-orang yang membersihkan diri dan mencari kebenaran. Supaya dapat terjaga dari tidurnya, seseorang harus mengikuti pola yang telah dilakukan oleh para penyembah Tuhan yang sudah terkait dengan Realitas.
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ
44. Mengapa engkau suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang engkau melupakan diri sendiri, padahal engkau membaca Alkitab? Maka tidakkah engkau berpikir?
Membaca (tala) menyiratkan arti pengulangan, dengan demikian, juga berarti kesadaran. Nasihat seseorang hanya dapat efektif jika ia memiliki pikiran yang jernih dan hati yang dalam. Makna tertentu berkaitan dengan orang-orang yang menasihati orang lain, namun tidak melaksanakannya bagi dirinya sendiri. Jika seseorang itu tidak mau berubah dan menyadari dirinya, bagaimana dia dapat menolong orang lain?
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلوةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ
45. Dan mintalah pertolongan sambil bersabar dan salat. Sesungguhnya yang demikian itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
Kunci kesabaran terietak pada kemampuan untuk menundukkan nafsu dengan melalui kerendahan hati. Ini akan mendatangkan ketaatan dan kondisi ibadah terus-menerus yang dapat memuaskan batin.
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
46. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan mereka akan kembali kepada-Nya.
Ganjaran bagi kerendahan hati dan ibadah adalah pastinya pengetahuan bahwa dia akan kembali kepada Allah. Kembali kepada tauhid adalah keselamatan dan rahmat abadi.
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُواْ نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَ أَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
47. Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan ingatlah bahwa Aku telah melebihkan engkau atas segala umat.
Ayat ini mengingatkan banyak rasul bahwa Bani Israel itu diberikan anugerah besar. Suatu umat mensyukuri nikmat yang diberikan kepada mereka dengan bersikap menerima, taat, dan taat kepada Allah. Sebagai ganjarannya, rahmat dan nikmat Allah pun akan bertambah lebih besar lagi.
وَاتَّقُواْ يَوْماً لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئاً وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ
| Back | Index | Next |