Ayat 71-78

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

71. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Dalam surga, terdapat bidadari-bidadari cantik yang hanya ada kebaikan (khayr) pada diri mereka. Sementara itu, dalam keadaan manusia di muka bumi ini, tidak ada khayr tanpa ada keburukan yang meliputinya. Setiap amal kebaikan yang ingin dilakukan manusia selalu dikelilingi oleh kemungkinan-kemungkinan tindakan salah. Manusia harus menyibak rerimbunan perilaku dan tindakan yang salah untuk dapat sampai pada perbuatan yang benar. Jalan setan memang mudah, tetapi jalan tindakan yang benar adalah sulit. Allah mengatakan bahwa satu-satunya khayr hanya datang dari keindahan-keindahan bidadari ini.

Dalam keindahan dunia ini, selalu dijumpai ada lawannya, keburukan. Apa pun sesuatu itu, pikirkan bahwa hal itu pasti akan membusuk. Pikirkanlah tentang sebuah kolam dengan bunga-bunga lily yang indah, dan kemudian bayangkan bunga-bunga itu dalam musim dingin dan bagaimana bunga-bunga itu akan layu dan mati. Pikirkan tentang seorang wanita muda nan cantik, dan kemudian bayangkanlah ketika ia sudah tua dan renta. Keindahan di alam ini selalu mengandung pula unsur keburukan. Sementara itu, di alam akhirat, hanya ada keindahan dalam hal-hal yang baik dan bidadari-bidadari yang cantik (khay-rat hisan).

حُورٌ مَّقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

72. (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

73. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Hur(bidadari-bidadari suci atau perawan-perawan di surga) benar-benar sangat suci dan penuh sopan santun, yang sesungguhnya sangat diinginkan manusia. Bidadari-bidadari suci itu dipingit di dalam gedung, siap dan menunggu untuk menetralisasikan segala dualitas yang mungkin ditimbulkan dengan kedatangan manusia. Kata khiyam berarti bangunan, tempat yang menenangkan dan meredakan apa yang belum terpenuhi dan terpuaskan.

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

74. Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan tidakpula oleh jin.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

75. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Hur itu belum pernah disentuh atau dijamah. Mereka ada seolah-olah dalam keadaan "bertenaga penuh." Begitu sebuah objek bertenaga penuh disentuh atau dijamah, ia akan kehilangan tenaganya dan tidak lagi memilikinya. Hur adalah kekuatan mumi, dan bukannya wanita dengan kaki dan lengan. Di akhirat, kaum pria akan dinetralisasi sewaktu berhubungan dengan mereka dan menyebabkan keduanya bersatu.

مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ

76. Mereka bertelekan pada bantal-bantal berwama hijau dan permadani-permadani indah.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

77. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Kata 'abqari adalah permadani berwarna-warni dan juga bisa berarti seorang jenius. 'Abqar adalah sebuah tempat legendaris yang dihuni oleh jin. Ia juga berarti nama kebahagiaan dan kesenangan khusus yang diperoleh manusia di dunia ini, keadaan santai sambil bersandar bagi para penghuni surga. Kesadaran mereka adalah kesadaran mumi, karena tidak ada lagi penjara tubuh yang mengungkung.

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

78. Mahaberkah nama Allah Tuhanmu yang mempunyai keagungan dan kemuliaan.

Surah ini dimulai dengan ayat yang merupakan suatu bukti, tanda, dan manifestasi. Yang pertama adalah Tuhan Yang Maha Pengasih, yang mengajarkan pengetahuan tentang diri-Nya melalui Alquran (al-Mizan). Manifestasi pertama Allah adalah cahaya-Nya, cahaya pengetahuan. Orang-orang kafir ingin memadamkan cahaya Allah dan perintah-Nya, tetapi Allah tidak mengizinkannya karena "Allah adalah cahaya langit dan bumi."

Surah ini berakhir dengan kalimat "Mahaberkah" (tabaraka). Mahaberkah adalah salah satu nama Allah. Jika manusia menyeru nama Allah, maka Allah akan menghampiri kediamannya.

Dalam kehidupan ini, manusia tengah menempuh perjalanan. Ia memiliki sebuah tiket di tangannya. Tiket itu bertuliskan "Allah," dan bukan "Chicago." Allah adalah tiketnya dan nafs adalah tempat persinggahannya. Jika manusia melewati tempat singgah itu, jika ia melewati nafs itu, maka ia akan bergerak menuju Nama itu. Ketika ia mencapai Nama itu, maka Nama itu pun bersatu dengan Tuhan Yang Mahabenar. Ketika tengah menempuh perjalanan, sang musafir mungkin berkata bahwa ia akan pergi ke Chicago, tetapi tiket itu sendiri tidaklah menyiratkan pengalamannya tentang Chicago. Pengalaman tentang tempat baru dimulai setelah seseorang benar-benar telah tiba di sana.

Manusia dinilai berdasarkan niatannya. Hentikan waktu—tekan waktu bersama-sama, dan bukannya mengamat-amatinya sebagaimana dilakukan dalam pengalaman hidup—dan nama serta realitasnya akan menjadi satu. Jika hati manusia betul-betul ada di Chicago, maka namanya akan menyatu dengan realitas. Jika tiket seseorang ada di tangannya, jika ia mampu mengenali berkah dari Tuhan Yang Maha Pengasih, maka ia telah mengambil Nama itu sebagai kunci, maka ia akan mencapai tujuannya. Ia akan mendapati Tuhan sudah ada di sana. Tuhan hanya memiliki cinta yang sangat tinggi kepada makhluk ini, yang mengandung setiap makna—yakni manusia.

Ketuhanan mengandung segenap kemuliaan dan keagungan. Dalam situasi dunia yang tidak mungkin ini, manusia berusaha agar diagung-agungkan dan dimuliakan. Akan tetapi, usahanya ini pun sia-sia. Sebab, kemuliaan dan keagungan hanyalah milik Allah. Jika manusia memuliakan dan mengagungkan-Nya, maka ia hanya melihat Tuhan saja. Kemudian, pendapat orang lain, entah baik maupun buruk, sama sekali tidak berarti bagi dirinya. ia tidak peduli bila orang-orang mengaguminya. Ia juga tidak ambil pusing bila mereka mencerca dan memaki-maki dirinya. Ini karena, setelah mampu menempatkan dirinya dalam posisi yang terendah, pikirannya hanya tertuju kepada Allah. Reaksi Allah atas perilakunya ini adalah justru kebalikannya: Dia akan menganugerahkan kepadanya kehormatan sejati, dan bukan sekadar kehormatan manusia semata.

Pintu dan kunci pengetahuan tentang Zat Yang Maha Pengasih, pengetahuan menyeluruh tentang Zat Yang Maha Pemurah, adalah pengakuan atas berkah (barakah)-Nya. Ke manapun manusia menghadap, ia akan selalu melihat berkah Allah. Jika pengalamannya baik, maka itulah berkah. Jika pengalamannya pahit, maka itu pun juga berkah. Jika ada perdamaian, maka itulah berkah. Jika ada perang, maka itulah berkah. Bagaimana mungkin bisa ada perdamaian tanpa perang? Bagaimana mungkin ada kesehatan tanpa penyakit? Bagaimana mungkin ada Islam tanpa musuh-musuhnya yang bermukim di suatu daerah. Ada daerah Islam (dar al-Islam) dan juga daerah kekafiran (dar al-kufr). Tidak ada yang satu tanpa yang lain. Bagaimana mungkin kehidupan dihargai dan dinilai secara maksimal tanpa ada kematian? Bagaimana mungkin ada kesadaran tanpa kebekuan, sebagaimana dialami dalam kehidupan ini seperti keterjagaan dan tidur? Dua keadaan itu adalah rahmat dan berkah dari Allah.

Bagaimana mungkin ada nafsu dalam diri manusia dan sekaligus tidak ada nafsu dalam dirinya? Pengetahuan tentang nafsu, begitu dialami, adalah salah satu nikmat tertinggi, karena inilah pengetahuan tentang Tuhan. Jika seorang manusia beriman, jika ia percaya, maka ia akan selalu melihat rahmat dari Tuhan Yang Pengasih dalam setiap aspek. Itulah kepuasan positif seorang muslim. Ia memiliki kemampuan membedakan, kemampuan untuk mengenali lingkungan yang sehat dan yang tidak sehat; tetapi dalam keduanya, ia melihat berkah. Hatinya yang tenang memandu dirinya menuju perilaku yang baik dan benar, menuju ihsan. Apakah maqam al-ihsdn, kedudukan keutamaan, itu kalau bukan beramal seakan-akan Allah melihat diri Anda, meskipun Anda tidak melihat Allah? Manusia harus mencapai tindakan yang lebih murni terus-menerus sampai ia, sebagai individu, melakukan wus', hal terbaik sesuai dengan kemampuannya. Maka ia pun berada di tempat yang benar, waktu yang benar, dan melakukan hal yang benar. Itulah surga. Balasan ihsan adalah ihsan.

Jika seseorang dapat melakukan sesuatu lebih baik dari apa yang dilakukannya sekarang, maka ia harus melakukannya. Hidupnya akan terpuaskan. Ketika hal itu sudah tercapai, ia akan bisa mengekang dirinya sendiri. Ia tidak akan melampaui kepantasannya; ia tidak akan berada di tempat yang tidak memberinya keuntungan maksimum. Ini karena ia sangat menghargai setiap tarikan nafas. Imam ‘Ali a.s. berkata, "Apa yang halal bagimu akan dihitung, dan apa yang haram bagimu akan diganjar." Karena nafas, sebagai anugerah dari Zat Yang Maha Pengasih, adalah halal bagi manusia, maka manusia harus mempertanggung-jawabkan penggunaannya.

Balasan amal kebaikan adalah kebaikan pula. Balasan terbaik adalah pengakuan atas keagungan dan kemuliaan Tuhan yang kepada-Nya manusia menghamba. Jika manusia memang betul-betul hamba yang baik dan tulus, maka keagungan dan kemuliaan-Nya pun akan dimiliki oleh sang hamba. Hamba yang baik adalah pelayan. Anda akan mendapati bahwa, jika ada seseorang dalam perusahaan yang merupakan asisten pribadi ketua yang baik, maka ia akan lebih ditakuti dan disegani dalam perusahaan itu dibandingkan orang lain. Ini karena ia selalu mematuhi tuannya. Jika hamba itu adalah betul-betul hamba yang pasrah, maka ia akan mencerminkan keagungan dan kebesaran serta kemuliaan Tuhan Yang Maha Pengasih.[]