Ayat 191-200

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

191. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk, dan dalam keadaan berharing, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sambil berkata: "Ya Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau! Maka peliharalah kami dari siksa neraka."

Ayat ini mendefiniskan orang-orang yang mendalam pernahamannya dan berpikiran tajam (ulu al-albab), yaitu orang-orang yang mengingat dan melihat dalam perubahan-perubahan ini, dalam dualitas-dualitas ini, tak ada hal lain kecuali ayat-ayat Allah. Mereka mengingat-Nya ketika berdiri, duduk, dan berharing. Setiap saat mereka berada dalam keadaan salat, memuji, bersyukur, dan sadar secara spontan.

"Dan yang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”: ada hadis Nabi yang menyatakan, "Perenungan selama satu jam lebih baik dari ibadah [formal] selama tujuh puluh tahun." Hadis lain memakai lafal satu tahun, dan bukan tujuh puluh tahun, dan ada beberapa hadis lain yang serupa namun memakai lafal yang berbeda. Tujuannya adalah agar ibadah kita mumi, ikhlas, dan mampu membawa perubahan diri. Ia haruslah keluar dari hati kita yang paling dalam. Jika kita tidak mencapai kualitas ibadah yang seperti ini, maka amal kita hanyalah menjadi kulit ibadah saja. Inti batinnya adalah apa yang memberi pencerahan. Walau bagaimana pun pelaksanaan hanya dalam bentuk formal juga wajib, dan lebih baik daripada tidak beribadah sama sekali, karena "ada tingkatan iman di hadapan Allah." Kita harus menerima semua orang yang menganut Islam sebagai saudara kita, karena rahmat Allah meliputi seluruh makhluk, bahkan terhadap orang yang hanya menjalankan gerakan salat secara sederhana.

Orang-orang yang memahami ibadah secara mendalam akan sadar dalam kekhusyuan mereka. Untuk sampai pada kondisi ini, hijab berupa penipuan diri dan ego harus disingkap dan dihilangkan. Ini merupakan tugas yang sulit. Setiap orang harus membuka dirinya dengan merenungkan kebenaran: bahwa alam ini, yang termanifestasi sebagai dualitas yang nyata, pada dasarnya terserap oleh tauhid. Tak ada sebab akibat yang timbul tanpa adanya sebab awal, sebab inilah yang menyebabkan seluruh alam ada. Jadi, tugas sulit itu adalah menemukan sumber kita sendiri. Untuk melakukan hal ini, manusia harus menentukan arah tepat untuk dijalani, mengurangi kuantitas pemikirannya, dan memperbaiki kualitasnya, menyucikan niat dan hatinya, dan akhirnya, menyatukan niatnya dengan amal baik: cahaya dan kesenangan batin dumbangi dengan disiplin lahiri dan tujuan yang jelas.

Dalam mencari sebab keberadaan dirinya, seseorang pada akhirnya akan menemukan bahwa makhluk Allah diciptakan sesuai dengan keHendaknya. Dia mencipta makhluk-Nya tanpa pertanyaan, namun manusialah yang harus dipertanyakan. Manusia harus menyadari bahwa jawaban pertanyaan tentang keberadaannya berasal dari sebuah sumber yang darinya pertanyaan itu muncul. Allah memberi kita kekuatan dan alat untuk bertanya, dan Dia juga memberi kita petunjuk kepada jawaban tersebut dengan pengecualian. Jawabannya adalah bahwa tak ada Tuhan kecuali Allah.

رَبَّنَا إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

192. "Ya Tuhan kami, barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia. Dan tak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang lalim."

Kehidupan orang yang disinggung dalam ayat ini disia-siakan dengan kehinaan, dan tak ada harapan perbaikan baginya. Alquran menyatakan bahwa orang yang berada di dalam neraka telah dihinakan, maksudnya bahwa ia telah menghabiskan energi dan waktunya dengan sia-sia.

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْبِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّاسَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

193. "Ya Tuhan kami, sungguh kami telah mendengar penyeru yang menyeru kepada iman: 'berimanlah kalian kepada Tuhan kalian,' maka kami pnn beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalaban kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.

Kita tentu telah mendengar panggilan batin kepada kebenaran, dan kita telah menyadarinya di dalam hati kita. Inilah risalah Nabi Muhammad. "Dan dari ujung kota, datanglah seorang laki-laki sambil berlari. Ia berkata: 'Hai kaumku, ikutilah para rasul itu. Ikutilah orang yang tidak meminta upah kepadamu sedang mereka orang-orang yang diberikan petunjuk.'" (Q.S. 36: 20). Orang-orang yang sehat, baik, berisi, dan sensitif, akan mendengar suara kebenaran dan akan mampu membedakan [suara tersebut]. Inilah orang-orang yang sadar dan membaca kitab. Mereka mendengar panggilan yang menyuruh mereka beriman kepada pencipta mereka, menyadari batasan kebebasan mereka, dan tidak melanggar hukum. Bagi mereka yang berada dalam rumah suci Islam, segala sesuatunya berjalan dengan baik di dunia ini maupun di akhirat. Suara itu memanggil, meminta kita menyadari kemanusiaan kita, dan beriman pada Tuhan yang mengisi jiwa kita, untuk membawa kita kepada potensi penuh. Kita menjadi dewasa dengan cara menerima dan mengatasi persoalan-persoalan dan perubahan-perubahan yang ada di hadapan kita. Melalui interaksilah kita diberikan petunjuk menuju lapangan amal yang tak bertepi, hingga akhirnya kita sadar bahwa tak ada tempat pelarian kecuali melalui Islam dan amal saleh. Seluruh dualitas terkandung dalam kesatuan tujuan dan keunikan sumber seluruh makhluk.

"Ya Tuhan kami... wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti." Orang-orang yang berbakti (abrar) adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat berupa penghormatan batin, kesalehan, kebaktian, dan kebaikan. Mereka berupaya keras menuju kesempurnaan. Mereka memohon kepada Allah agar mengampuni dan menyadarkan mereka.

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

194. "Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul-Mu, dan janganlah engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji."

Inilah doa yang keluar dari hati orang beriman, seiring melajunya ia di jalan pencerahan. Ia mencari kebebasan penuh melalui penyerahan diri kepada ketuhanan (rububiyyah). Ia memohon kepada Tuhan, sekaligus menunjukkan keinginannya untuk berpacu menuju potensi yang dikembangkan sepenuhnya, yaitu status makrifat.

"Berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul-Mu." Pada awalnya, keimanan seseorang boleh jadi lebih dari sekadar taklid buta kepada bentuk lahiri risalah. Ia percaya bahwa itulah risalah yang sesungguhnya, yang dibawa oleh hamba Allah, yang menghidupkan risalah tersebut, yang diubah olehnya, dan yang tak takut terhadap akibat-akibat yang mungkin muncul dari iman atau amalnya. Orang beriman memohon agar tidak dihinakan pada hari kebangkitan, karena ia telah percaya kepada risalah ini. Permohonan itu menunjukkan kerinduannya akan petunjuk dan perlindungan ilahi. Permohonan inilah yang ia percaya akan menjadi sebuah realitas. Jika seseorang gagal meraih tujuannya, ini hanya karena ia belum mengikuti jalan penyerahan diri, pengetahuan, amal, dan juga perubahan diri.

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لاَ أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَأُخْرِجُواْمِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُواْ فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُواْ وَقُتِلُواْ لأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَاالأَنْهَارُ ثَوَابًا مِّن عِندِ اللّهِ وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

195. Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonan mereka [seraya berfirman]: "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki atau perempuan, karena sebagian kalian adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah akan Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya—sebagai pahala di sisi Allah. Dan pada sisi Allah pahala yang baik."

Tuhan yang dermawan telah mewajibkan diri-Nya mengabulkan doa mereka. Inilah hukum kehidupan. Orang beriman akan melihat bahwa hal ini benar, sesuai dengan tingkatan imannya. Ketika seseorang tidak takut akan masa depannya, maka ia akan mampu melihat masa depan tersebut secara lebih jelas, yaitu, sampai batas di mana rahmat Allah tak menyembunyikan apa yang akan terjadi. Menerima takdir Allah menjadikan seseorang berbuat secara positif dan dengan kejelasan tujuan. Pada satu titik tertentu dalam perkembangan seseorang, ia akan memasuki dunia yang tak berdimensi waktu, di mana masa depan, sebuah konsep yang terjebak dalam jargon waktu, tak berarti lagi baginya. Hanya orang-orang dengan imannya kuat, seperti para nabi dan wali Allah, yang akan berada dalam kondisi memuaskan sebagai hamba dengan kesadaran murni. Pengetahuan khusus tentang peistiwa-peristiwa di masa depan hanya diberikan sesuai dengan kemampuan orang yang bersangkutan untuk menerimanya. Memberikan anugerah ini kepada seorang yang lemah sama halnya dengan memberikan sebuah pistol kepada seorang anak muda yang tidak terlatih. Terlalu banyak risiko memberikan pengetahuan tersebut kepada orang yang tidak tepat: dan ini bukanlah cara Yang Mahawujud memberikan karunia kepada hamba-Nya. Pengetahuan tentang masa depan merupakan sebuah anugerah dari Allah. Kemampuan melihat peristiwa yang akan datang mungkin menjadi bagian dari penegasan kebenaran yang diterima oleh orang mukmin yang lemah imannya; pengetahuan seperti itu bukanlah termasuk mukjizat. Mukjizat sesungguhnya adalah alam itu sendiri, termasuk setiap kita adalah mukjizat. Mukjizat berarti bahwa dari satu sumber memancarlah beragam makhluk dan mereka akan kembali kepada sumber tersebut.

"Aku tidak menyia-nyiakan amat'; keadilan Allah bersifat mutlak. Manusia sendirilah yang lalim akibat kelalaiannya. Orang yang terus mengejar keinginan-keingiannya yang sukar dipenuhi pada akhirnya akan rugi. Ia akan menemukan bahwa waktu telah berlalu dan tak ada kesadaran dan kepuasan lebih tinggi yang dapat dicapainya. Orang yang berniat menghargai setiap detik waktu dalam hidupnya dan menggunakannya untuk mengembangkan potensinya akan siap menerima anugerah yang Allah berikan, semuanya sesuai dengan pengaturan waktu yang Allah tentukan.

"Orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya ... dan yang berperang dan terbunuh": aturan dasarnya adalah bahwa seorang muslim berperang hanya untuk mempertahankan diri. "Mereka membunuh dan terbunuh," berarti bahwa mereka merespon. Perbuatan salah mereka dihapuskan karena keimanan mereka kepada Allah, berbuat amal saleh, dan mengorbankan diri.

"Surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai—sebagai pahala dari sisi Allah. Dan di sisi Allahlah pahala yang baik." Inilah surga tertinggi yang tak terbatas ruang dan waktu. Di dunia ini pun ada surga-surga lahiri sebagaimana surga pengetahuan, ketaatan, dan syukur, yang sungai-sungainya bersifat batini dan gaib. Surga-surga ini memiliki pahala sejati, karena dipelihara oleh sumber yang gaib. Kebahagiaan batin tak dapat digambarkan secara lahiri.

لاَ يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُواْ فِي الْبِلاَدِ

196. Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri.

مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

197. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah jahanam, seburuk-buruk tempat peristirahatan.

Jangan terpedaya oleh kebebasan orang-orang yang memiliki status sosial tinggi atau kekayaan melimpah. Bagi merekalah "kesenangan sementara," yang mereka beli dengan harga sangat tinggi, karena konsekuensi dari kebebasan yang tanpa pertimbangan ini adalah neraka, keadaan yang abadi dan tak dapat diubah.

لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلاً مِّنْ عِندِ اللّهِ وَمَا عِندَ اللّهِ خَيْرٌ لِّلأَبْرَارِ

198. Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya akan memperoleh surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya, sebagai tempat tinggal dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.

Alquran selalu menghadapkan antara dua situasi yang berlawanan kepada kita, untuk menyadarkan akal kita. Kita diberitahu tentang peristiwa-peristiwa fisik, seperti peperangan antara kekuatan-kekuatan yang bertentangan. Lalu Alquran melangkah lebih jauh ke arah deskripsi-deskripsi abstrak. Kita ditunjukkan kepada seluruh spektrum iman. Alquran dibuat dari satu serat, di mana banyak untaiannya saling terjalin. Semakin dekat kita mengamati, semakin baiklah faedah dan kemampuan membedakan yang kita temui. Inilah lautan ilmu, cahaya dan kebahagiaan yang tak bertepi.

Pada surah ini kita diberikan contoh orang-orang yang tenggelam dalam kekafiran, mereka yang munafik, demikian pula orang-orang yang kuat dan yang lemah iman mereka. Kita juga ditunjukkan bagaimana kemunafikan menjalar pada saat kita dikalahkan oleh perasaan aman dan percaya diri yang palsu, dan bagaimana kemunafikan itu sendiri bisa membantu meningkatkan kesadaran kita asalkan ia disadari secara nyata. Lalu Alquran memberikan kepada kita potret orang-orang saleh, mereka yang bertakwa kepada Tuhan mereka. Mereka berada dalam kesadaran takwa yang abadi dan memiliki pengharapan spiritual yang tinggi. Kesadaran dan zikir mereka secara hakiki dibalas dengan surga batini berupa makrifat dan kecintaan kepada Allah.

وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَن يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلّهِ لاَ يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللّهِ ثَمَنًا قَلِيلاً أُوْلَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

199. Dan sungguh di antara Ahlul Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kalian dan apa yang diturunkan kepada mereka. Mereka khusyuk kepada Allah dan tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Sesungguhnya Allah maha cepat perhitungannya.

Ahlul Kitab yang sesungguhnya, khususnya Yahudi dan Kristen, secara alami akan percaya kepada Alquran, karena mereka mengetahui bahwa hanya ada satu kitab yang diturunkan Allah. Mereka akan beriman kepada tauhid dan kesempurnaan risalah Allah, yang memadukan syariah dengan kesadaran batin akan Yang Mahawujud. Kita diingatkan agar tidak menganggap semua Ahlul Kitab kafir hanya karena kitab-kitab mereka telah diubah atau dihapuskan. Ada di antara mereka orang-orang yang sungguh-sungguh berada dalam keadaan berserah diri kepada Allah. Mereka beriman kepada Allah dan hidup dalam penyerahan diri dan ketaatan kepada Allah. Mereka tidak akan menukar keimanan mereka dengan hal-hal duniawi. Tentu saja orang-orang seperti ini sedikit jumlahnya. Alquran menunjukkan penghormatan yang Islam berikan kepada Ahlul Kitab, karena seluruh nabi dan rasul terdahulu adalah nabi Allah untuk satu agama—Islam. Kita tidak boleh menjadi sombong hanya karena kita mengira bahwa kitalah pengikut Nabi Muhammad, karena berapa banyak kaum muslim yang benar-benar mengikutinya?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْاللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

200. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kalian; tetaplah bersiaga dan bertakwalah kepada Allah, agar kalian beruntung.

Orang mukmin sejati bersikap sabar terhadap musibah apa pun yang menimpanya. Ia sabar karena ia percaya akan kebijaksanaan dan rahmat Allah, dan yakin bahwa ia akan mengetahui hikmah dan manfaat dari kesulitannya tersebut: belajar melalui percobaan. Ia sabar menjalani hidup tanpa melakukan hal-hal yang diharamkan. Ia sabar pada saat-saat sulit, dengan keyakinan bahwa semuanya akan berakhir dengan kebahagiaan. Allah menasihatinya untuk mengalahkan musuhnya: ego dirinya, musuh bebuyutan dari hidup sesuai dengan tauhid.

Kita hanya bisa membantu orang lain menjalani kehidupan spiritual dan melaju menyusuri jalan lurus selama terdapat lingkungan yang mendukung untuk itu. Hanya sedikit sekali orang-orang yang imannya kuat yang dapat bertahan tidak hanyut dalam arus kehidupan, di tengah-tengah budaya persaingan, materialistik, dan eksploitatif. Lingkungan seperti ini mungkin lebih mempenebal iman orang yang telah kuat imannya, namun akan menyebabkan banyak kesulitan dan kebimbangan bagi orang-orang yang lemah imannya. Kebanyakan kita membutuhkan legitimasi dari orang-orang yang berpikiran sama dengan kita; perasaan aman tidak hanya ditemukan pada jumlahnya saja, namun juga pada kualitasnya.

"Dan bertakwalah kepada Allah, agar kalian beruntung." Jika kita tinggal dalam batas-batas yang telah ditentukan Allah, baik secara lahiri maupun batini, rnaka kita sendiri akan menyadari batas-batas apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkan. Kita harus mempelajari tingkat keimanan kita agar dapat menggunakan obat yang cocok untuk penyakit batin kita. Orang yang lemah harus mengikuti orang yang kuat. Berdasarkan alasan inilah orang-orang yang berada di jalan makrifat bergabung dengan ruh-ruh yang berpikiran sama dengan mereka, di manapun mereka berada, selalu melihat kepada orang-orang yang lebih kuat imannya, guna memperoleh petunjuk.

Orang-orang yang tidak bergabung dengan komunitas mukmin mengira bahwa mereka dapat memperoleh pengetahuan tentang kebenaran dan tauhid dengan cara uzlah. Namun kita harus ingat bahwa kekuatan sebuah masyarakat bukan teletak pada jumlahnya. Nabi Muhammad bersabda, "Lebih baik membawa satu hati menuju pengetahuan kebenaran daripada memiliki segala sesuatu di langit atau di Bumi."

Tak ada balasan yang lebih tinggi bagi orang yang tercerahkan di kehidupan ini melainkan melihat orang lain melaju dalam pengetahuan diri dan makrifat. Meskipun aspirasi spiritual seseorang boleh jadi terkubur di bawah puing-puing jiwa rendahnya, namun puing-puing ini dapat disingkirkan dan sang individu dapat meningkat dan memperbaiki diri ketika lingkungan memberinya kesehatan, kekuatan, dan petunjuk batin. Kesulitan harus ditangani dengan benar dan efisien, dengan kepekaan terhadap proses belajar yang terdapat di dalamnya. Manusia berdoa kepada Allah dengan ketulusan dan kerendahan hati agar memperoleh pernahaman dan petunjuk.[]

KESIMPULAN

Pesan yang terkandung dalam surah Ali ‘Imran merupakan bagian dari risalah Alquran. Pesan ini didasarkan atas tauhid, keesaan Allah: "Allah, tak ada Tuhan kecuali Dia, Yang Mahahidup, Maha Berdiri Sendiri ... Tak ada sesuatu pun di Bumi ataupun di langit yang tersembunyi dari Allah ... Dia membentukrnu di dalam rahim sebagaimana Dia kebendaki. Tak ada Tuhan kecuali Dia ... Yang Mahakuasa, MAllahijaksana ... Raja Penguasa alam ... Maha Pengampun, Maha Pengasih."

Surah Ali ‘Imran, sebagaimana surah-surah lainnya dalam Alquran, bolak-balik menegaskan pernyataan-pernyataan penting tentang sifat Allah dan kondisi psikososial manusia. Melalui perenungan, manusia akan menyadari bahwa surah itu menyalin kesadaran manusia yang juga bersifat bolak-balik, dari introspeksi yang lebih sedikit atau lebih besar kepada keterlibatan sosial yang lebih sedikit atau lebih besar, meskipun setiap orang secara pribadi maupun sosial terubat, baik secara lahir maupun batin.

Tauhid terkait dengan kesadaran murni dan pribadi yang menyatu. Tak ada cara lain untuk mencapai keadaan ini kecuali percaya dengan cara itu, dan terus berjuang dengan amal saleh. Karena alasan inilah, Alquran menjadi demikian penting keberadaannya sebagai buku petunjuk teknis dalam menjalankan kehidupan ini. Melalui iman dan penyucian diri datanglah keyakinan bahwa "tak ada Tuhan kecuali Dia." Sebagaimana tampak sederhananya jalan menuju status tertinggi, pesona dunia merupakan daya tarik yang selalu mengalihkan perhatian manusia: "Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaannya terhadap wanita, anak-anak, harta simpanan berupa emas dan perak ... Inilah kesenangan hidup di dunia." Satu-satunya jalan bagi manusia untuk menghindari godaan adalah dengan cara bersabar, menguji niat dengan kejujuran tinggi, dan kembali kepada Allah: "Mereka berkata, Ya Tuhan Kami, ampunilah kami atas kesalahan dan kelaliman kami ... dan bantulah kami melawan orang-orang kafir."

Dalam surah Ali ‘Imran, Allah menjelaskan berbagai tingkatan iman yang ada pada manusia, dan juga perubahan yang terjadi dalam hati seseorang yang memiliki keimanan. Hati tidak pernah tetap ataupun diam. Diamnya hati hanya terjadi di alam yang tak berdimensi waktu, dan keyakinan tertinggi hanya diraih melalui kematian, ketika manusia tak lagi memiliki kebebasan untuk berbuat. Semakin mendekat seseorang kepada kematian, semakin yakinlah ia akan Yang Mahawujud.

Lalu apakah yang dimaksud dengan iman? Dapatkan iman diterjemahkan sebagai pengetahuan, ataukah ia hanyalah sejenis keyakinan takhyul? Iman boleh jadi bermula secara buta, namun seandainya ia tidak mengantarkan kepada keyakinan yang sepenuhnya tersadarkan, maka iman tersebut hanya memiliki sedikit nilai. Kekuatan iman bergantung pada sejauh mana kuatnya hubungan antara seorang mukmin dengan zat yang ia imani dan yakini. Iman dan keyakinan membukakan pintu pengetahuan dan amal saleh. Dengan menjadikan unsur-unsur ini sebagai batu fondasi, maka proses transformasi bisa dimulai.

Manusia tidak bisa berhubungan dengan Allah kecuali jika ia juga berhubungan dengan-Nya melalui makhluk-Nya, karena adakah sesuatu yang bukan berasal dari Allah? Orang yang mengklaim bahwa ia berhubungan dengan Allah namun tidak dengan makhluk-Nya, ia adalah munafiq dan bodoh, karena pernyataan tersebut mengisyaratkan pemisahan, dan tak mengandung makna sedikit pun, sebagaimana Allah nyatakan, "Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lebernya sendiri” (Q.S. 50: 16).

Iman kepada Allah akan menyucikan orang mukmin. Islam sejati didasarkan atas kesucian hati. Pada tingkatan manakah kelalaian, kebebasan, dan kesediaan hati mereka? Apakah hati rindu terhadap hal-hal duniawi, kendati ia tidak mampu meraihnya? Hati mencerminkan tingkatan ilmu dan tauhid. Iman bertambah dengan merealisasikan takwa kepada Allah, karena orang yang bertakwa menyadari pentingnya takwa.

Tidaklah mungkin bagi manusia untuk menilai apakah seseorang telah berbuat atas dasar keimanannya atau tidak, karena ia tidak mengetahui pembahan yang terjadi pada hati orang lain. Yang dapat dikatakan hanyalah bahwa amal seseorang pada waktu tertentu merupakan cerminan keadaan batinnya, baik berupa kelemahan, kebimbangan, dan kebencian, ataupun kekuatan, tujuan, dan cmia kasih. Amal seseorang merupakan cermin iman pada saat terrentu dan boleh jadi sangat berbeda di waktu yang lain. Kritik hanya boleh dilontarkan terhadap perbuatan seseorang dan bukan kepada pribadinya, karena perbuatan tersebut berasal dari niat yang boleh jadi baik, boleh jadi buruk.

Meskipun aksi utama dalam surah Ali ‘Imran adalah perang Uhud, namun surah ini juga mengandung kisah Quranis tentang Nabi Isa. Kebanyakan kisah ini menggambarkan keajabaian kelahirannya, dan keajaiban yang ia buat untuk mencengangkan orang-orang yang telah diperdaya oleh sekelompok elit pendeta.

Perang Uhud memiliki efek yang mengguncangkan terhadap masyarakat muslim generasi awal, yang terlalu percaya diri setelah kemenangan gemilang di perang Badr. Kekalahan orang-orang Mekah pada perang Badr, yang dipimpin Abu Sufyan, memberikan motif bagi turunnya ayat-ayat dalam surah ini yang memberikan pengetahuan dan indikasi implisit tentang peperangan yang lebih mulia, yakui peperangan melawan hawa nafsu. Dalam bahasa Arab istilah untuk peperangan adalah jihad (jihad). Kini, jihad biasanya diterjemahkan sebagai "perang suci," namun sesungguhnya ia bermakna "berjuang di jalan kebenaran." Nabi Muhammad menjelaskan bahwa peperangan fisik untuk mempertahankan kebenaran merupakan jihad kecil. Jihad besar, sebagaimana yang disabdakannya, merupakan perjuangan melawan hawa nafsu. Jadi, pesan yang terkandung dalam ayat-ayat tentang perang Badr merupakan pengetahuan langsung tentang peperangan melawan hawa nafsu.

Dari pelajaran Alquran tentang jiwa manusia dalam surah Ali ‘Imran, kita dapat menangkap makna "sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan" (Q.S. 12: 53). Kita akhirnya memahami nafsu secara lebih mendalam, sebagai tempat pengalaman manusia, dalam kapasitas gandanya, baik untuk kebaikan maupun kejahatan. Pada masa kita, khususnya pada masa pembungaan uang, kabut ilusi "peradaban" menjadi tebal. Banyak orang menyadari dirinya sakit, namun hanya sedikit yang mencari obat. Meskipun kebaikan tanpa cacat jarang terlihat, sudah terlalu banyak personifikasi keburukan melintasi panggung dunia, sehingga akal mendiktekan perlu adanya tingkatan nafsu yang lebih tinggi. Jika bukan demikian, kemanusiaan mungkin sudah tak lagi bertahan, karena skala yang menentang hidup sudah terbalik jauh sebelumnya.

"Ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar”terus menyala di hadapan kita, namun jika kita tidak tahan terhadap cahaya kebenaran, maka kita akan dibutakan oleh gambaran setelahnya tentang keberadaan dunia, dan kita hanya meraba-raba tanpa tujuan. Karena tercengang oleh permintaan dan keinginan jiwa rendah, dan tak mampu mengubahnya melalui kesadaran yang lebih tinggi, akhirnya kita benar-benar kehilangan keajaiban yang terbesar dari keseluruhan: yaitu kehidupan itu sendiri. Namun, persepsi kita yang terlambat ini selalu menyelimuti ketakjuban, ia senatiasa membentangkan keajaiban: "Mereka memiliki hati namun tidak bisa memahami; mereka memiliki mata namun tidak bisa melihat' (Q.S. 7: 179).

Kemunafikan merupakan penyakit utama, karena itulah yang disukai jiwa rendah (nafs). Dalam kemunafikan, nafsu rendah menemukan pemaafan dan tempat pelarian; kemunafikan bersembunyi di dalam terowongan kepalsuannya sendiri. Kemunafikan sangatlah sukar dideteksi dan sukar ditangkap di tempat sumbernya. Bahkan beberapa orang mukmin terbaik pun dihinggapi kemunafikan ketika perang Uhud. Kita tidak boleh menganggap diri kita lebih tinggi dari orang lain. "Tak ada seorang pun merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” (Q.S. 7: 99). Azab dan ketetapan Allah bertujuan untuk menyadarkan kita akan Allah.

Realitas menguji dan membebani kita dalam rangka menyucikan dan menyadarkan kita. Pada waktu-waktu tersulit, sebenarnya kita memiliki kesempatan terbaik untuk merenungkan alasan mengapa konflik terjadi. Selama waktu-waktu biasa dan tidak ada kesulitan, kebiasaan berada di dalam kontrol, dan hanya sedikit pengetahuan vang diperoleh. Selama masa-masa sulit, kita dipaksa berserah diri, dan dari penyerahan diri tersebut kita mempelajari makna di balik peristiwa-peristiwa itu dan memperoleh kearifan dan pengetahuan sejati.

Surah Ali ‘Imran merupakan gambaran lebih mendetil tentang peristiwa-peristiwa yang diceritakan kembali pada surah al-'Asr "Demi masa, manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, menasihati dengan kebenaran dan kesabaran" (Q.S. 103: 1-3). Tema sentralnya adalah kemunafikan dan kebimbangan manusia. Sebuah objek dapat dilihat jelas ketika ia memiliki bayangan yang didefinisikan secara tajam; apa yang transparan tidak terlihat seluruhnya di bawah cahaya yang buram. Semakin besar bayangan, semakin jelaslah profil objek tersebut. Bayangan kemunafikan timbul menghiasi berbagai peristiwa yang terjadi sejak awal kemunculan Islam, dan karenanya ia dapat dideteksi oleh kaum mukmin.

Kemunafikan samar yang kita sembunyikan muncul pada masyarakat awal Madinah. Sebagaimana orang-orang yang bimbang dan tidak memanifestasikan keimanan sejatinya kepada Allah muncul pada generasi Islam awal, maka orang-orang seperti ini juga muncul dalam masyarakat muslim sekarang. Jalan Allah tidaklah berubah. Seandainya ia berubah, maka akan terjadilah kekacauan dan kerusakan yang terus-menerus di alam ini. Seandainya ia bembah, maka tak akan ada hubungan atau keberlanjutan antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.

Surah Ali ‘Imran menggambarkan poros tengah yang di atasnya Islam, peradaban, kebudayaan, dan kemanusiaan berdiri: masyrakat mukmin yang percaya kepada Allah. Nilai suatu masyarakat dapat dinilai dari tujuan dan orientasinya. Keinginan dan tujuan utama komunitas muslim generasi awal adalah pengetahuan tauhid. Komunitas Islam awal di Madinah tidak saja merasakan pengetahuan tauhid, nainun juga menghidupkannya; dan banyak dari mereka diubah olehnya. Merekalah orang-orang yang bertauhid (muwahhidin) dalam arti yang sesungguhnya. Mereka percaya bahwa sumber seluruh alam ini adalah Yang Maha Esa dan bahwa seluruh alam ini dipelihara dan kembali kepada Yang Esa. Mereka mengenal sifat-sifat Allah sebagaimana termanifestasi dalam realitas wujud.

Setelah iman dan pernahaman akan keesaan Realitas, kekuatan kedua yang menghubungkan kaum muslim Madinah adalah keimanan mereka kepada Nabi Muhammad dan kecintaan serta kesetiaan mereka kepadanya. Dengan cinta dan iman mereka kepada Allah, terjadilah perubahan batin. Denga kecintaan dan kepatuhan terhadap ajaran nabi, komunitas dan masyarakat mukmin muncul.

Ali pernah ditanya tentang pengertian takwa kepada Allah, dan ia menjawab, "Takwa berarti engkau menaati-Nya, dan engkau tidak mendurhakai-Nya." Menaati Allah, sebagaimana kami nyatakan di awal, berarti menaati hukum fisik maupun spiritual. Hukum spiritual menuntut para individu untuk berkembang secara spiritual. Hukum fisik lebih mudah untuk diamati—jika kita merusak alam, kita harus membayar ongkosnya. Ali selanjutnya berkata, "Takwa juga berarti kamu ingat kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya, dan bahwa kamu bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri-Nya."

Keadaan syukur merupakan keadaan hati yang puas. Semakin puas sebuah hati, semakin terbukalah ia kepada pengetahuan yang lebih tinggi. Orang yang hatinya lapang dan bebas, yaitu keadaan hati yang terjadi setelah syukur, lebih mungkin berhasil dalam memperoleh pengetahuan. Allah berfirman dalam Alquran bahwa mereka yang bersyukur akan bertambah nikmatnya. Proses ini bisa diamati dan diuji secara rasional. Aksi dan reaksi bersifat sepadan dan berlawanan, dan karenanya orang yang hatinya berada dalam keadaan syukur pasti menemukan kesuksesan dan kepuasan sampai batas syukurnya itu, baik syukur itu diucapkan ataupun tidak. Kita semua tahu bahwa orang-orang yang lalim sangatlah sukses dalam pengertian Duniawi, dan kesuksesan ini mungkin kelihatannya tidak adil bagi kita secara sekilas, namun jika kita melihat lebih mendalam, kita akan menemukan bahwa mereka bersyukur atas apa yang mereka miliki. Hukum Allah berlaku bagi setiap orang. Meskipun mereka boleh jadi orang yang sangat jahat, namun rasa syukur mereka menyebabkan mereka sukses secara duniawi. Meskipun demikian, kesuksesan ini datang dengan berbagai batasan, yang paling penting adalah bahwa kesuksesan tersebut terbatas hanya di alam dunia ini saja, padahal tujuan alam ini adalah untuk berkembang dan mempersiapkan diri menuju alam kemudian.

Allah mencipta makhluk-Nya dengan cinta kasih dan agar diketahui. Pengetahuan Allah dimulai dengan memahami hubungan antara sebab dan akibat melalui akal. Pengetahuan ini disebut kesatuan perbuatan. Menyusul kemudian kesatuan sifat. Di sini manusia menyadari sifat-sifat dalam seluruh keragaman, namun mengetahui bahwa mereka berasal dari satu sumber. Terakhir, muncullah pe-ngetahuan kesatuan hakikat yang dapat diperoleh hanya melalu hati yang suci yang ditransformasikan oleh perbuatan yang tidak egois, disertai kesadaran dan zikir yang terus-menerus kepada Allah, Sang Pemberi Petunjuk dan Yang Maha Pengasih.[]