Ayat 51-60

ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ

51. Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang yang sesat lagi mendustakan.

Dalam Alquran, satu hari (yawm) tidaklah berarti dua puluh empat jam. Dikatakan bahwa sehari di sisi Allah sama dengan seribu tahun dalam kehidupan dunia. Di tempat lain digambarkan bahwa sehari di sisi Allah sama dengan lima puluh ribu tahun lamanya. Bersama Allah, tidak ada waktu. Waktu bersifat relatif, sebagaimana ditunjukkan dengan fenomena menempuh perjalanan dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. "Orang-orang terdahulu dan terkemudian benar-benar akan dihimpun pada hari tertentu." Ada sebuah tujuan spesifik untuk dunia lahiriah dan dunia batiniah.

Orang-orang kafir terus-menerus berada dalam keadaan merugi. Mereka akan terlempar ke dalam wilayah di luar jangkauan waktu, di mana dimensi waktu lenyap, dan keadaan tegang terus-menerus berlangsung selamanya. Karena mengingkari bahwa kehidupan yang diberikan kepadanya untuk mengagungkan nama Allah yang memberinya kehidupan, orang-orang kafir itu akan merasakan keadaan tanpa istirahat abadi. Dalam keadaan merugi abadi, di dalam api neraka, tidak ada yang tumbuh. Semakin seseorang berusaha untuk menanggung panasnya api, semakin api itu membakarnya.

لَآكِلُونَ مِن شَجَرٍ مِّن زَقُّومٍ

52. Benar-benar akan memakan pohon zaqqum.

فَمَالِؤُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ

53. Dan akan memenuhi perut(mu) dengannya.

Para penghuni wilayah ini diberi makan dari sesuatu yang pahitnya luar biasa, pohon zaqqum yang tumbuh dari lubang neraka Jahannam tanpa dasar. Ia mengalami tersesat dalam keabadaian seolah-olah ia memenuhi perutnya dengan kepahitan luar biasa. Ia minum tanpa terpuaskan haus dan dahaganya.

فَشَارِبُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْحَمِيمِ

54. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.

فَشَارِبُونَ شُرْبَ الْهِيمِ

55. Maka kamu minum seperti minumnya unta yang sangat kehausan.

هَذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ الدِّينِ

56. Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.

Air digunakan untuk menghilangkan dan mengurangi panas dan merupakan salah satu unsur yang berusaha menegakkan keseimbangan. Unsur-unsur itu adalah: basah, kering, panas, dan dingin. Jika seseorang terialu panas, maka ia akan pergi menuju tempat yang dingin. Bila terlalu kering, ia akan bergerak menuju yang basah. Manusia selalu mencari keseimbangan. Segala sesuatu dijaga keseimbangannya oleh Zat Yang Mahaesa. Akan tetapi, pada hari yang ditentukan itu, berbagai karakteristik dari unsur-unsur yang berfungsi sebagai penyetara dalam dunia fisik itu tidak lagi berlaku. Kata hm berarti unta yang kehausan. Kata ini berkaitan dengan h'im, yang bermakna kebingungan. Dalam kehidupan ini, manusia menyibukkan diri dengan apa yang dipandangnya penting dan yang tanpanya ia merasa tidak akan bahagia. Ia melecehkan dirinya sendiri dan juga alam dengan konsumsi yang kelewat berlebihan.

Gambaran tentang kesengsaraan "golongan kiri" adalah berada dalam neraka Jahannam. Salah satu turunan kata dari Jahannam adalah jahnm, lubang tak berdasar, keadaan tanpa gravitasi, di mana seseorang mendapatkan kabar buruk bahwa sesuatu yang disayanginya tidak lagi bersamanya. Bayangkan seseorang yang tiba-tiba diberi kabar tentang banyaknya bencana yang menimpanya, bahwa segala sesuatu yang disimpan, dicintai, dan dianggapnya penting telah lenyapitulah jahnm.

Manusia menginginkan istiqrr, yakni keajegan, stabilitas, dan keamanan. Dalam bahasa Arab, orang mengetahui Arab bahwa sebuah kata berkaitan dengan kata-kata lainnya melalui akar katanya. Kata-kata ini melahirkan banyak variasi, menjelaskan, dan memberikan makna lebih dalam pada kata semula. Istaqarra (bentuk verbal dari istiqrr) berarti mencari keamanan atau tempat tinggal permanen. Iqrr adalah fondasi atau ketetapan, dan qarrara bermakna memutuskan, melaporkan, atau menuturkan. Seluruh kata ini berasal dari akar kata yang sama, qarra, yang berarti menetap, menentukan atau menyelesaikan.

Jika seseorang menempuh jalan kebenaran, maka ia mestilah mengakui bahwa ia Akhirnya akan selamat. Sebab, bagaimana mungkin ia bisa mencari asal-usul sesuatu yang belum ada dalam dirinya?

Fakta bahwa manusia mencari rasa aman membuktikan bahwa asal-usul atau esensinya ada dalam rasa aman. Akan tetapi, ia mencarinya di tempat lain dalam ghaflah (kelalaian, kejahilan). Ia mengira bahwa rasa amannya terletak pada diri kawan ini atau pada pekerjaan itu itulah ghaflah. Fakta bahwa ia mencari keamanan berarti bahwa keamanan tidak dapat dicapai begitu saja.

Ada sebuah cerita tentang seseorang yang pada suatu malam kehilangan cincin dan mencarinya di bawah cahaya lampu jalanan. Setelah beberapa lama, sewaktu ada banyak orang yang ikut membantu mencarinya, tak ada tanda-tanda bahwa cincin itu akan ditemukan. Akhirnya, salah seorang bertanya kepadanya ihwal di mana ia kehilangan cincin itu, yang kemudian dijawabnya, "Aku kehilangan cincin itu di sana," jawabnya sambil menunjuk rumahnya. "Lalu, mengapa kita tidak mencarinya di sana?" tanya orang yang membantu mencarinya itu dengan kaget. Sang pemilik cincin menjawab, "Karena di sana tidak ada cahaya lampu." Manusia sering mencari di tempat yang nyaman baginya untuk mencari. la tidak berusaha mencari di mana kebenaran berada. Inilah sifat manusia.

نَحْنُ خَلَقْنَاكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُونَ

57. Kami telah menciptakanmu. Maka, mengapa kamu tidak membenarkan (hari kebangkitan)?

أَفَرَأَيْتُم مَّا تُمْنُونَ

58. Maka, terangkanlah tentang nutfah yang kamu pancarkan.

أَأَنتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ

59. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?

Keberadaan manusia di dunia ini bukanlah sebuah kebetulan. Keberadaannya mempunyai tujuan. Kebetulan adalah suatu gambaran yang digunakan untuk menunjukkan ketidakmampuan memahami suatu situasi. Manusia telah diciptakan. Mengapa ia tidak bisa menegaskan hal itu? Mengapa ia tidak bisa menerima hal ini sebagai benar adanya? Kata tushaddiqun berasal dari kata sbaddaqa, yang berarti memandang sebagai benar.

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

60. Kami telah menentukan kematian di antaramu, dan Kami sama sekali tidak bisa dikalahkan.