Dialah figur unggul pemimpin umat ini dan pelopor kebangkitan pemikiran dan ilmiah dunia Islam. Seperti diungkapkan oleh Al-Jâhizh, dia telah memenuhi dunia ini dengan ilmu-ilmu pengetahuannya. Dari limpahan ilmunya, para imam mazhab-mazhab Islam menyimpulkan hukum-hukum syariat, baik yang berkenaan dengan masalah ibadah, transaksi, akad, maupun îqâ‘. Khazanah dan warisan fiqihnya masih selalu segar dan senantiasa memberikan buah. Para fuqaha mazhab Imamiyah merujuk kepada khazanah tersebut dalam menyimpulkan hukum-hukum syariat, sebagaimana para ahli hukum juga memetik buah-buah khazanah dalam merumuskan kaidah-kaidah hukum baru.
Pengetahuan Imam Ash-Shâdiq as. tidak terbatas pada bidang ilmu Fiqih, Hadis, dan Kalam (Teologi), tetapi juga meliputi Fisika, Kimia, Kedokteran, dan ilmu-ilmu lainnya yang telah berhasil ia gagas. Di antara ilmu yang berhasil ditemukannya ialah oksigen. Ia telah mengurai segala unsur utama pembentuk oksigen ini. Ia juga telah mengungkap bahwa udara bukanlah unsur yang sederhana (basîth), akan tetapi tersusun dari beberapa unsur yang beraneka ragam. Begitu juga, ia telah mengungkap rahasia alam semesta, orbit-orbit planet dunia, dan lain sebagainya. Hal ini telah diisyaratkan oleh para ilmuwan Barat yang sudah mempelajari pandangan-pandangannya melalui telaah atas hasil-hasil karya tulis muridnya, Jâbir bin Hayyân, seorang ilmuwan dari Timur. Menurut pengakuan Jâbir, semua karya tulisnya adalah pelajaran dari Imam Ash-Shâdiq as. Para ilmuwan Barat mengakui bahwa Imam as. adalah figur akal yang tidak memiliki tara di dunia ini.[1]
Suatu hal yang aneh sekali ketika sebagian Orientalis berpendapat bahwa Imam Ash-Shâdiq as. bukan dari Arab, tetapi dari bangsa Barat yang telah hijrah ke dunia Timur, lantaran bangsa Timur tidak pernah memiliki kemampuan ilmiah seperti yang dimilikinya.
Sepertinya mereka lalai bahwa Imam Ash-Shâdiq as. berasal dari keluarga Nabi saw. yang telah berhasil menaburkan cahaya dan kesadaran di muka bumi ini. Imam Ash-Shâdiq as. adalah satu-satunya figur yang memiliki seluruh kriteria dan keunggulan di dunia. Ilmu pengetahuannya telah berhasil menerangi seluruh akal umat manusia dan mendorongnya menuju kemajuan dan perkembangan.
Kemampuan-kemampuan ilmiah yang dimiliki Imam Ash-Shâdiq as. itu membuktikan kebenaran pendapat mazhab Syi‘ah tentang para imam Ahlul Bait as.; bahwa Allah swt. telah menganugerahkan hikmah dan puncak segala ilmu kepada mereka, serta Dia telah mengilhamkan banyak pengetahuan kepada mereka, sebagaimana Dia telah menganugerahkan hal itu kepada para nabi dan rasul-Nya. Secara logis, persepsi ini tidak sedikit pun memuat unsur berlebih-lebihan dan keterlaluan (ghuluw) atau penyimpangan dari standar-standar ilmiah setelah ada argumentasi dan dalil-dalil terpercaya yang membuktikan hal itu.
Ala kulli hal, pada kesempatan ini, kami akan memaparkan—secara ringkas—biografi Imam Ash-Shâdiq as. dan sebagian karakteristiknya, serta hal-hal lain yang masih berhubungan dengan tema ini.
Masa Pertumbuhan
Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shâdiq as. tumbuh berkembang di dalam sebuah rumah—dari sekian rumah-rumah Allah—yang paling agung. Itulah rumah yang telah memancarkan risalah cemerlang Islam dan telah menjadikan umat manusia sebagai umat yang berbudaya, menganugerah-kan kemuliaan kepadanya, dan mangagungkan pemikiran (baca: akal).
Di dalam rumah yang agung itulah, Imam Ash-Shâdiq, pemimpin figur umat dan pelopor kebangkitan pemikiran dan kultur mereka ini, tumbuh berkembang. Kakeknya, Imam Zainul Abidin as. menangani pendidikannya. Ia menurunkan anugerah, keimanan, dan ketakwaan yang dimilikinya kepada cucunya itu. Imam Ash-Shâdiq as. menjalani masa hidupnya di bawah asuhan kakeknya ini selama dua belas belas tahun.[2] Selama dua belas tahun itu, ia menyaksikan sirah sang kakek yang semerbak mewangi yang menuturkan sirah dan perjalanan hidup para nabi dan rasul Allah. Tidak ada satu amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt. kecuali ia telah melakukannya, dan tiada kemuliaan atau keutamaan yang dapat mengangkat jati diri seorang manusia kecuali semua karakter itu menjadi substansi jiwanya.
Imam Ash-Shâdiq as. senantiasa menyertai kakeknya, Imam Zainul Abidin as. ketika ia sibuk beribadah kepada Allah swt. dan berpuasa siang dan malam. Karena terlalu banyak mengerjakan salat dan sujud, anggota-anggota sujudnya mengeras seperti kulit lutut unta.
Imam Ash-Shâdiq as. melihat kakeknya, Imam Zainul Abidin as. pada saat ia sedang memikul kantong yang berisi penuh makanan dan kepingan uang di pertengahan malam yang gelap-gulita untuk diinfakkan kepada para fakir miskin dan orang-orang lemah, sedangkan mereka tidak mengenalnya, sebagaimana ia selalu menimba air dan memikulnya untuk diberikan kepada orang-orang yang lemah.
Imam Ash-Shâdiq as. melihat kakeknya, Imam Zainul Abidin as. pada saat ia sedang menyebarkan ilmu di tengah-tengah masyarakat, sedangkan para pencari ilmu tengah berkumpul mengelilinginya untuk menimba ilmu darinya dan para qari senantiasa mengikuti jejaknya untuk mencatat hikmah, doa-doa, dan fatwa-fatwanya.[3]
Ala kulli hal, Imam Zainul Abidin as. telah melaksanakan tugasnya untuk mendidik cucunya ini. Ia telah mencurahkan seluruh karakteristik jiwanya atas cucunya itu dan mempersiapkannya untuk mengemban kepemimpinan umat ini dalam menempuh jalur agama dan ilmu penge-tahuan.
Sepeninggal kakeknya, Imam Zainul Abidin as. ini, Imam Muham-mad Al-Bâqir as. melaksanakan tugas untuk memelihara sang putra dan memamahnya dengan segala pengetahuan. Imam Ash-Shâdiq senantiasa menghadiri majelis-majelis pelajaran ayahnya yang selalu diadakan di dalam rumahnya atau di masjid Nabi saw., sedangkan ia masih kecil yang sedang tumbuh berkembang. Kecerdasan dan kejeniusan Imam Ash-Shâdiq as. mengungguli seluruh murid ayahnya, padahal mereka adalah para ulama besar dan telah berusia lanjut. Realita ini diakui oleh Umar bin Abdul Aziz di hadapan Walîd bin Abdul Malik ketika ia berziarah ke Madinah. Walîd juga pernah berkata kepada Imam Abu Ja‘far as: “Sungguh putramu, Ash-Shâdiq, itu adalah allamah masa kini, padahal ia masih berusia belia.”[4]
Imam Ash-Shâdiq as. menjadi perumpamaan (matsal) dalam berbakti kepada ayahnya. Menurutnya, amal yang paling utama adalah berbakti kepada kedua orang tua.[5] Ia selalu berkata: “Sesungguhnya Allah akan meringankan sekarat kematian seorang yang berbuat kebajikan kepada kedua orang tuanya ....”
Imam Ash-Shâdiq as. hidup bersama sang ayah selama sepuluh tahun. Selama itu pula ia telah banyak terpengaruh oleh kriteria hidup ayahnya sehingga ia menjadi gambaran yang cerlang darinya. Setelah sang ayah meninggal dunia, ia menerima beban untuk memimpin umat dan membimbing mereka secara spiritual. Para fuqaha pun berdatangan mengelilinginya dan para perawi hadis menimba berbagai ragam ilmu dan pengetahuan, serta mutiara hikmah dan nilai-nilai akhlak darinya.
Keluasan Pengetahuan
Imam Ash-Shâdiq as. adalah satu-satunya figur yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan pada masa hidupnya. Ia adalah sang jenius dunia dalam seluruh penggagasan ilmu pengetahuan yang ia miliki.
Syaikh Abu Zuhrah menulis: “Ia (Imam Ash-Shâdiq as.) adalah kekuatan pemikiran pada masa hidupnya. Ia tidak mencukupkan diri hanya dengan mengajar pengetahuan-pengetahuan Islam, ilmu-ilmu Al-Qur’an, Sunah dan Akidah. Tetapi, ia juga mengajarkan jagad raya ini beserta rahasia-rahasianya. Kemudian, dengan daya pikirnya yang luar biasa itu, ia mengarungi angkasa raya dan orbit-orbit matahari, bulan, dan bintang-gumintang. Begitu juga, ia memberikan perhatian yang luar biasa terhadap pengajaran jiwa manusia. Apabila sejarah Filsafat menetapkan bahwa Socrates telah berhasil menurunkan ilmu Filsafat dari langit untuk umat manusia di bumi, sungguh Imam Ash-Shâdiq as. telah mengajar-kan rahasia-rahasia langit, bumi, manusia, dan perundangan-undangan seluruh agama (samawi).”[6]
Begitulah Imam Ash-Shâdiq as. bak muara yang meluapkan berbagai pengetahuan yang telah berhasil membekali dunia Islam dengan seluruh pondasi kebangkitan dan kemajuan. Pengetahuannya tidak berbatas dan sanggup menciptakan sesuatu yang baru dalam (sejarah) peradaban Islam dan mendorong kehidupan ilmiah ini untuk maju selangkah, tidak hanya di dalam dunia Islam saja, bahkan di seluruh dunia.
Univertas Islam
Universitas Imam Ash-Shâdiq as. adalah sebuah perguruan tinggi Islam yang paling menonjol pada masa dinasti Abbâsiyah. Universitas ini aktif memajukan kehidupan ilmiah dan telah berhasil mencetuskan berbagai jenis ilmu pengetahuan yang belum pernah dikenal oleh masyarakat sebelumnya. Universitas telah berhasil melahirkan para sarjana terbaik dan pemikir kenamaan, para filosof besar, dan para ulama handal.
Sebagian peneliti berkomentar menulis: “Jika ada sebuah hakikat yang harus diungkapkan, hakikat itu adalah bahwa peradaban Islam dan pemikiran Arab berutang budi kepada pusat pemikiran ini dalam perkembangan dan kemajuannya, juga kepada tonggaknya, Ash-Shâdiq, dalam kekayaan ilmu dan warisannya yang sangat berharga.”[7]
Seorang ‘arif tersohor berkata: “Sebagai kewajiban ilmiah, hendaknya kita berbicara tentang Imam Ash-Shâdiq as. sebagai tonggak sebuah garis pemikiran pertama, sebagai bapak sebuah pusat pengajaran filsafat spiritual pertama, sebagai seorang penemu ilmu Kimia seperti ditegaskan oleh Jâbir bin Hayyân Ash-Shûfî Ath-Thursûsî, dan sebagai figur yang telah mampu mengeluarkan akal pemikiran Islam dari ruang lingkup yang terbatas ke sebuah hamparan yang sangat luas yang didominasi oleh kebebasan berpikir secara ilmiah dan sehat dan bertumpu pada prinsip hakikat, logika, dan realita.”[8]
Kami telah membahas aspek-aspek perguruan tinggi ini dalam buku yang berjudul Mawsû‘ah Al-Imam Ash-Shâdiq as. (Ensiklopedia Imam Ash-Shâdiq as.) secara panjang lebar. Hanya pada kesempatan ini kami akan menyinggung sekelumit isyarat tentangnya:
a. Pusat Kedudukan Universitas
Pusat kedudukan universitas besar telah didirikan oleh Imam Ash-Shâdiq as. di Madinah, tepatnya di dalam masjid Nabi saw. yang agung itu. Di masjid inilah ia menyampaikan seluruh kuliah dan ilmunya. Dan pada kesempatan yang lain, ia juga pernah meyampaikan kuliahnya di dalam rumahnya sendiri.
b. Delegasi-Delegasi Ilmiah
Para ilmuwan dan sarjana-sarjana dari berbagai penjuru negeri Islam begitu cepatnya bergabung dengan lembaga besar ini.
Sayid Abdul Aziz Al-Ahl menulis: “Kota Kufah, Bashrah, Wasith, dan Hijaz mengirim para ilmuwan handalnya yang berasal dari berbagai kabilah, seperti kabilah Bani Asad, Ghina, Mukhariq, Thayy, Sulaim, Ghathafan, Ghifar, Al-Azd, Khuza‘ah, Khasy‘am, Makhzum, Bani Dhab-bah, Quraisy, dan—khususnya—Bani Harist bin Abdul Muthalib dan Bani Hasan bin Ali untuk menimba ilmu pengetahuan kepada Ja‘far bin Muhammad. Banyak juga orang-orang merdeka dan putra-putra para tuan dari pemuka-pemuka kabilah-kabilah Arab tersebut, serta negeri Persia, khususnya kota Qum yang telah pergi ke haribaannya (untuk menimba ilmu pengetahuan).”[9]
Seluruh negeri Islam telah mengirimkan putra-putra terbaik mereka untuk menimba ilmu pengetahuan dari muara ilmunya dan mempelajari hukum-hukum syariat Islam dari keturunan Nabi saw. ini.
c. Jumlah Murid
Jumlah murid yang pernah menimba ilmu pengetahuan di universitas Imam Ash-Shâdiq as. ini mencapai empat ribu orang.[10] Ini jumlah yang sangat besar yang tidak pernah dicapai oleh yayasan ilmiah mana pun pada masa itu. Al-Hâfizh Abul Abbâs bin ‘Uqdah Al-Hamadânî Al-Kûfî telah menulis sebuah buku yang memuat nama-nama para perawi yang pernah meriwayatkan hadis-hadis Imam Ash-Shâdiq as. Ia menegaskan bahwa jumlah mereka adalah empat ribu orang.[11]
Dr. Mahmûd Al-Khâlidî berkomentar: “Para perawi terpercaya (tsiqah) yang berasal dari para sahabatnya—yaitu, sahabat Imam Ash-Shâdiq as—berjumlah empat ribu orang. Dan kami tidak heran dengan jumlah ini. Kami akan heran jika malah yang terjadi adalah sebaliknya, seandainya hal itu terjadi dan dinukil (oleh sejarah).”[12]
Dalam kitab Al-Mu‘tabar, Al-Muhaqqiq menulis: “Pada masanya—yaitu, masa Imam Ash-Shâdiq as., berbagai macam ilmu pengetahuan yang membuat akal kita terperana lahir darinya dan betapa banyak perawi—yang berjumlah sekitar empat ribu orang—meriwayatkan (hadis) darinya.”[13]
Sayid Muhammad Shâdiq Nasy’at berkomentar: “Rumah Ja‘far Ash-Shâdiq berfungsi seperti universitas yang senantiasa dipenuhi oleh ulama kaliber dalam bidang ilmu Hadis, Tafsir, Hikmah, dan Teologi. Sering kali majelis pelajarannya dihadiri oleh dua ribu orang, dan kadang-kadang dihadiri oleh empat ribu ulama kaliber dan tersohor. Hadis dan pelajaran-pelajaran yang telah diterima oleh para muridnya di majelis pelajarannya itu telah dibukukan oleh mereka dalam sekumpulan buku. Kumpulan buku ini memiliki fungsi sebagai ensiklopedia ilmiah bagi mazhab Syi‘ah atau mazhab Ja‘farî.”[14]
Kami telah menulis bibliografi tiga ribu enam ratus enam puluh dua (3662) perawi hadis Imam Ash-Shâdiq dalam buku Mawsû‘ah Al-Imam Ash-Shâdiq as.
d. Cabang-cabang Universitas Imam Ash-Shâdiq as.
Mayoritas ulama lulusan universitas Imam Ash-Shâdiq as. kembali ke negeri mereka masing-masing lalu mendirikan berbagai pusat pendidikan ilmiah dan sekolah agama. Cabang terbesar yang pernah didirikan (dalam sejarah) adalah universitas yang didirikan di masjid jami’ Kufah.
Hasan bin Ali Al-Wasysyâ’ berkata: “Aku pernah berguru di masjid ini—yaitu, masjid jami’ Kufah—kepada sembilan ratus syaikh. Setiap orang dari mereka senantiasa berkata: ‘Haddatsani Ja‘far bin Muhammad (Ja‘far bin Muhammad telah meriwayatkan hadis ini kepadaku).’”[15]
Gerakan intelektual di kota Kufah telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, sebagaimana kebangkitan ilmiah juga mengalami perkembangan yang sama di daerah-daerah lain.
Sayid Mir Ali Al-Hindi berkomentar: “Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa tersebarnya ilmu pada masa itu telah berhasil membantu pembebasan akal dari jeratan-jeratannya. Dengan demikian, dialog-dialog filosofis menjadi mendominasi setiap pertemuan ilmiah yang ada di seluruh penjuru negeri Islam. Perlu kami tambahkan lagi bahwa orang yang memimpin gerakan (dahsyat ini) adalah seorang cucu Ali bin Abi Thalib yang bernama Imam Ja‘far dan bergelar Ash-Shâdiq. Ia adalah seorang figur yang memiliki ufuk pemikiran yang luas, yang memiliki kedalaman akal yang menakjubkan, dan yang menguasai seluruh bidang ilmu yang berkembang pada masanya. Pada hakikatnya, ia adalah figur pertama yang telah berhasil mendirikan sekolah-sekolah filfasat yang masyhur di dunia Islam. Orang-orang yang menghadiri majelis ilmunya tidak hanya terbatas pada mereka yang telah berhasil menjadi imam-imam mazhab. Tetapi, majelis ilmunya dihadiri oleh para pelajar filsafat yang berasal dari berbagai penjuru dunia yang sangat jauh dan terpencil.”[16]
Ala kulli hal, sebagian keluarga ilmiah yang terdapat di kota Kufah telah mendapatkan kebanggan besar dengan menjadi murid Imam Ash-Shâdiq as., dan mereka dikenal memiliki spesialisasi di bidang ilmu Fiqih dan Hadis, seperti keluarga Âl Hayyân At-Taghlibî, Âl A‘yun, Bani ‘Athiyah, Bani Darrâj, dan keluarga-keluarga ilmiah lainnya.[17]
Imam Ash-Shâdiq as. pernah tinggal di kota Kufah selama dua tahun. Ia berdomisili di daerah Bani Abdul Qais. Para pengikut Syi‘ah berbondong-bondong menjumpainya untuk meminta fatwa dan bertanya masalah hukum syariat kepadanya. Tentang banyaknya manusia yang berbondong-bondong menemuinya tersebut, Muhammad bin Ma‘rûf Al-Hilâlî bercerita: “Aku pernah pergi ke Hirah untuk menjumpai Ja‘far bin Muhammad. Aku tidak memiliki daya untuk menjumpainya lantaran banyaknya masyarakat (yang ingin berjumpa dengannya). Pada hari keempat, ia melihatku dan menghampiriku. Gerombolan manusia itu pun berpencar. Pada waktu itu, ia ingin pergi berziarah ke makam kakeknya, Amirul Mukminin as. Aku membuntutinya. Sambil berjalan bersama aku mendengarkan ucapan-ucapannya.”[18]
Metodologi Ilmiah
Pelajaran dan kuliah-kuliah Imam Ash-Shâdiq as. meliputi seluruh ilmu pengetahuan dan ragam peradaban yang tinggi. Ilmu-ilmu pengetahuan berikut ini adalah di antara cabang ilmu pengetahuan yang pernah diajar-kannya:
Dan cabang-cabang ilmu lainnya yang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi.
Di antara ilmu pengetahuan yang mendapatkan perhatian penuh Imam Ash-Shâdiq as. adalah ilmu Fiqih dalam semua temanya; ibadah, transaksi, akad, dan îqâ‘. Para fuqaha mazhab Imamiyah merujuk kepada hadis-hadis mulianya dalam menyimpulkan hukum-hukum syariat.
Pembukuan Ilmu
Imam Ja’far Ash-Shâdiq as. menekankan kepada para sahabatnya agar membukukan seluruh pelajaran dan kuliah yang disampaikan lantaran ia khawatir seluruh pelajaran berharga itu akan musnah. Abu Bashir pernah bercerita: “Aku pernah bertamu ke rumah Abu Abdillah. Ia berkata: ‘Apa yang membuatmu semua tidak mencatat? Kamu tidak akan dapat meng-hapal dan menjaga ilmu sampai kamu mencatatnya. Aku pernah memiliki sekelompok tamu dari penduduk Bashrah. Mereka menanyakan banyak hal kepadaku, dan mencatatnya.’”[19]
Sebagai manifestasi atas kepedulian Imam Ash-Shâdiq as. terhadap pembukuan ilmu pengetahuan, ia memerintahkan muridnya, Jâbir bin Hayyân untuk menciptakan sebuah kertas ‘anti bakar’. Jâbir memenuhi permintaan tersebut. Setelah kertas itu siap digunakan, Imam Ash-Shâdiq as. menulis sebuah kitab dengan tangannya sendiri dan melemparkannya ke dalam api. Kitab itu tidak rusak sedikit pun.[20] Para perawi tidak menyebutkan nama kitab tersebut, tidak juga nama ilmu yang telah ia torehkan di atas kertas itu.
Para ulama dari murid-murid Imam Ash-Shâdiq as. bergegas meme-nuhi perintahnya tersebut. Jâbir bin Hayyân menulis ilmu Kimia yang telah ia dapatkan darinya. Karya-karyanya mencapai lima ratus risalah.[21] Risalah-risalah tersebut menjadi muara yang jernih dalam bidang ilmu Kimia yang dimanfaatkan oleh para ilmuwan sebaik mungkin.
Masih banyak lagi bintang-bintang kejora dari sekian murid Imam Ash-Shâdiq as. yang memiliki karya tulis di berbagai bidang ilmu. Peneliti agung, Syaikh Aqa Buzurg Tehrani—semoga Allah mencerlangkan persemayaman abadinya—telah menulis biografi para penulis dari murid-muridnya sebanyak dua ratus orang.[22]
Demikian kiranya penjelasan singkat dan ringkas ini dapat menun-taskan pembahasan kita tentang universitas Imam Ash-Shâdiq as.
Kepribadian yang Utama
Tidak ada karakter yang mulia juga tidak ada akhlak yang utama kecuali semua itu menjadi karakteristik substansial dan jati diri Imam Ash-Shâdiq as. Pada kesempatan ini, kami akan memaparkan sebagian dari karakter-karakter mulia tersebut.
a. Ketinggian Akhlak
Imam Ash-Shâdiq as. memiliki ketinggian akhlak yang luar biasa. Dari sekian manifestasi ketinggian akhlaknya ialah berbuat baik kepada orang yang telah berbuat kurang ajar terhadapnya. Para ahli sejarah telah menyebutkan contoh-contoh yang tidak terhitung tentang ketinggian akhlaknya ini. Di antaranya adalah kisah berikut ini:
Salah seorang jamaah haji menyangka bahwa sabuk uangnya telah hilang. Ia mengadakan pencarian ke sana dan ke mari. Ia memasuki masjid Nabi saw. Tiba-tiba ia melihat Imam Ash-Shâdiq as. sedang mengerjakan salat. Ia memegangnya, sedangkan ia tidak mengenalnya. Ia bertanya: “Engkaukah yang telah mencuri sabuk uangku?”
Imam Ash-Shâdiq as. menghadapinya dengan penuh ramah sembari bertanya: “Berapakah isi sabuk uang tersebut?”
Ia menjawab: “1.000 dinar.”
Imam Ash-Shâdiq memberikan uang sebanyak 1.000 dinar kepada orang tersebut. Setelah menerima uang tersebut, dia pergi kembali ke tempat penginapannya. Tiba-tiba dia menemukan sabuk uang tersebut (tergeletak di tempat penginapan itu). Akhirnya, dia bergegas kembali untuk menemui Imam Ash-Shâdiq as. sambil membawa uang tersebut dengan bermaksud untuk memohon maaf. Imam Ash-Shâdiq enggan menerima uang itu sembari berkata: “Ini adalah sesuatu yang telah keluar dari tanganku, dan tidak mungkin akan kembali lagi kepadaku.” Orang itu pun terperangah dan mulai terusik untuk menanyakan siapakah sebenarnya itu. Salah seorang penduduk menjawabnya: “Ia Ja‘far Ash-Shâdiq.” Setelah mendengar jawaban itu, dia berkata dengan penuh rasa takjub: “Tidak heran jika perilaku ini perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang agung seperti dia.”[23]
Yang mendorong Imam Ash-Shâdiq as. untuk menuruti sangkaan orang tersebut dan memberikan uang kepadanya adalah ketinggian dan kemuliaan akhlaknya.
b. Rendah Hati
Salah satu karakter Imam Ash-Shâdiq as. yang sangat menonjol adalah tawadhu’ ‘rendah hati’. Sebagai manifestasi dari karakter ini, ia selalu duduk di atas hamparan pelepah daun kurma, menolak untuk duduk di atas permadani-permadani yang mewah, dan menolak setiap sikap orang-orang yang sombong. Ia pernah bertanya kepada seorang yang berasal dari sebuah kabilah: “Siapakah pembesar kabilah ini?”
Orang itu menjawab: “Aku.”
Imam Ash-Shâdiq menuntaskan: “Jika engkau pembesar mereka, tentu tidak akan mengatakan ‘Aku’.”[24]
Salah satu manifestasi kerendahan hati Imam Ash-Shâdiq as. adalah peristiwa berikut ini:
Salah seorang warga Kufah pernah bepergian bersama Imam Ash-Shâdiq as. Lalu Imam as. kehilangan orang tersebut. Ia bertanya tentang keberadaannya. seseorang menjawab dengan nada meremehkan: “Dia dari kabilah Nabathi[25]!”
Imam Ash-Shâdiq as. menukas: “Yang pokok bagi seseorang adalah akalnya, dan nilai kemuliaannya adalah agama, kemurahan, dan ketak-waannya. Seluruh manusia adalah sama-sama (berasal) dari Adam.”[26]
Sesungguhnya rendah hati dan tawadhu’ adalah salah satu karakter jiwa tertinggi yang dapat mengungkapkan kemuliaan dan kesempurnaan seseorang.
c. Tabah
Salah satu manifestasi ketinggian akhlak Imam Ash-Shâdiq as. yang lain adalah ketabahan atas segala musibah dan petaka. Pernah suatu hari, ia dikejutkan oleh kematian putranya yang bernama Ismail. Ismail adalah salah seorang bintang Bani Ali as. dari sisi keilmuan dan akhlak. Namun Imam as. memanggil beberapa orang sahabat kenamaannya dan menyu-guhkan hidangan makanan kepada mereka. Sebagian sahabatnya heran dan menghadap kepadanya seraya bertanya: “Aku tidak melihat sebersit pun tanda-tanda kesedihan atas kematian putra Anda?”
Imam Ash-Shâdiq as. menjawab: “Mengapa aku tidak boleh tampil seperti yang kalian lihat padahal orang terjujur—yaitu, Rasulullah saw—pernah bersabda kepada para sahabatnya: ‘Sesungguhnya aku dan kamu semua akan meninggal dunia.’”[27]
d. Kedermawanan
Imam Ash-Shâdiq as. adalah orang yang paling dermawan dan yang pa-ling banyak berbuat kebajikan kepada orang lain. Para perawi hadis telah menukil contoh-contoh yang sangat banyak sekali tentang manifestasi kedermawanannya. Di antara kedermawanannya adalah kisah berikut ini:
Asyja‘ As-Sullamî pernah menjumpai Imam Ash-Shâdiq as. di rumahnya. Ia menemukan Imam as. sedang sakit. Asyja‘ menanyakan sebab sakitnya. Imam Ash-Shâdiq menjawab: “Entahlah sebab sakitku. Katakan apa keperluanmu!”
Asyja‘ pun menyenandungkan bait-bait syair berikut ini:
Semoga Allah anugerahkan ‘afiat kepadamu dalam lelap tidurmu
Dengan mengeluarkan penyakit dari tubuhmu
seperti Dia keluarkan kehinaan meminta dari pundakmu.
Dari bait terakhir ini, Imam Ash-Shâdiq as. memahami keperluannya. Ia bertanya kepada budaknya: “Berapa uang yang engkau miliki?”
“Empat ratus,” jawab budak itu.
Imam Ash-Shâdiq as. memerintahkan supaya ia memberikan uang itu kepadanya.[28]
Tentang kebajikannya kepada orang-orang fakir miskin, para perawi hadis meriwayatkan bahwa Imam Ash-Shadiq as. senantiasa memberikan makanan dan pakaian kepada mereka sehingga tidak tersisa sedikit pun makanan dan pakaian bagi keluarganya sendiri.
Contoh lain dari manifestasi kedermawanan Imam Ash-Shâdiq as. yang lain ialah kisah berikut ini:
Pada suatu hari seseorang lewat di samping Imam Ash-Shâdiq yang ketika itu sedang menyantap makan siang. Orang itu tidak mengucapkan salam kepadanya. Imam Ash-Shâdiq mengajaknya untuk makan bersama. Sebagian hadirin memprotes tindakannya itu seraya berkata: “Yang sunah adalah hendaknya ia mengucapkan salam terlebih dahulu, lalu diundang (untuk makan bersama). Dia ‘kan tidak mengucapkan salam!”
Imam Ash-Shâdiq as. menjawab: “Ia seorang warga Irak yang punya sedikit sifat kikir.”[29]
e. Bersedekah Secara Rahasia
Seperti sang datuk, Imam Ali Zainul Abidin as. yang selalu mengunjungi orang-orang fakir miskin di pertengahan malam yang gelap, sedangkan mereka tidak mengenalnya. Sang cucu, Imam Ja’far as., pun mengikuti jejak mulia kakeknya. Di malam hari, ia memikul kantong kain yang penuh berisi roti, daging, dan uang. Ia pergi menjumpai masyarakat yang membutuhkan, lalu menginfakkan seluruh barang bawaannya itu kepada mereka, sedangkan mereka sendiri tidak mengenalnya. Mereka tidak tahu realita yang sebenarnya sampai Imam as. meninggal dunia. Kepergiannya itu membuat mereka merasa kehilangan kunjungan dan sedekah-sedekah (yang sering mereka dapatkan) di malam hari, dan mereka baru sadar bahwa seluruh sedekah itu berasal dari Imam as.[30]
Di antara sekian contoh sedekah yang telah ia lakukan secara rahasia adalah hadis yang diriwayatkann oleh Ismail bin Jâbir:
“Abu Abdillah as. pernah memberikan uang kepadaku sebanyak lima puluh dinar yang dibungkus sebuah kantong uang. Ia berpesan kepadaku: ‘Berikan uang tersebut kepada salah seorang dari Bani Hâsyim, dan janganlah kau beritahukan kepadanya bahwa aku yang memberikan uang ini kepadamu.’ Aku berangkat menjumpai orang tersebut dan menyerahkan uang itu kepadanya. Ia bertanya kepadaku: ‘Dari manakah uang ini?’ Aku memberitahukan kepadanya bahwa uang itu berasal dari seseorang yang tidak ingin kau ketahui jati dirinya. Orang keturunan Ali as. itu menimpali, ‘Orang ini senantiasa mengirimkan uang kepadaku setiap waktu sehingga kami bisa menafkahi hidup kami hingga tahun depan. Akan tetapi, Ja‘far tidak pernah memberikan sepeser dirham pun kepadaku, padahal ia memiliki banyak harta.’”[31]
Imam Ja’far Ash-Shâdiq as. merahasiakan sedekah hanya lantaran mengharapkan keridhaan Allah dan kebahagiaan di akhirat.
f. Bergegas Memenuhi Hajat Orang Lain
Jika seseorang meminta tolong kepada Imam Ash-Shâdiq as. untuk menyelesaikan sebuah hajat, ia bergegas memenuhinya. Ia pernah ditanya oleh seorang sahabat: “Mengapa Anda secepat ini menyelesaikan hajat seseorang?” Ia menjawab: “Aku khawatir ada orang lain yang lebih cepat menyelesaikannya sehingga aku tidak mendapatkan pahala sedikit pun.”
Begitulah Imam Ash-Shâdiq as. menjadi figur yang cemerlang dalam setiap nilai keutamaan.
g. Ibadah
Imam Ash-Shâdiq as. tidak berbeda dengan nenek moyangnya yang agung dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah swt. Ia orang yang paling ‘abid pada masa hidupnya. Ia senantiasa menghabiskan waktu senggangnya untuk mengerjakan salat karena Allah swt. Ia tidak pernah meninggalkan satu salat sunah pun, dan selalu mengerjakannya dengan penuh khusyuk dan kehadiran hati pada Allah swt. Imam as. sering berpuasa di siang hari. Jika bulan Ramadhan tiba, Imam as. menyambutnya dengan penuh rasa kerinduan yang dalam. Terdapat beberapa doa yang ia baca di siang dan malam hari selama bulan Ramadhan. Kami telah membawakan doa-doa tersebut dalam buku yang berjudul Ash-Shahîfah Ash-Shâdiqiyah.
Dalam ibadah haji, Imam as. melaksanakannya dengan kerendahan hati dan kekhusyukan yang dalam terhadap Allah swt. Sufyân Ats-Tsawrî pernah bercerita: “Demi Allah, aku pernah melihat Ja‘far bin Muhammad (sedang beribadah haji), dan aku tidak pernah melihat seorang jamaah haji berada di tempat-tempat suci dan mengerahkan seluruh dayanya untuk khusyuk (di haribaan Ilahi) sesungguh dia. Seketika sampai di Arafah, ia memisahkan dari dari jamaah haji yang lain dan menyibukkan dirinya dengan membaca doa di sana.”[32]
Bakr bin Muhammad Al-Azdî bercerita: “Aku pernah melakukan tawaf dan di sisiku Imam Abu Abdillah as. (juga sedang melakukan tawaf). Seusai tawaf, ia menepi dan mengerjakan salat di tempat yang berada di antara Rukun Baitullah dan Hajarul Aswad. Ketika ia melakukan sujud, aku mendengarnya membaca doa ini:
ÓóÌóÏó æóÌúåöíú áóßó ÊóÚóÈøõÏðÇ æó ÑöÞøðÇ¡ áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó ÍóÞøðÇ ÍóÞøðÇ¡ ÇóáúÃóæøóáõ ÞóÈúáó ßõáøö ÔóíúÁò æó ÇáúÂÎöÑõ ÈóÚúÏó ßõáøö ÔóíúÁò¡ æó åóÇ ÃóäóÇ ÐóÇ Èóíúäó íóÏóíúßó¡ äóÇÕöíóÊöíú ÈöíóÏößó¡ ÝóÇÛúÝöÑú áöíú¡ Åöäøóåõ áÇó íóÛúÝöÑõ ÇáÐøóäúÈó ÇáúÚóÙöíúãó ÛóíúÑõßó¡ ÝóÇÛúÝöÑú áöíú
“Wajahku telah bersujud kepada-Mu dengan penuh pengham-baan dan kehinaan, tiada tuhan selain Engkau sesungguh-sungguhnya, Yang Maha Awal sebelum segala sesuatu dan Yang Maha Akhir setelah segala sesuatu. Kini aku berada di haribaan-Mu, ubun-ubunku berada di genggaman kekuasaan-Mu, maka ampunilah aku! Sungguh tak ada yang mampu mengampuni dosa yang besar kecuali Engkau semata, maka ampunilah aku!”[33]
Begitulah Imam Ash-Shâdiq as. menjadi figur dan tauladan ibadah bagi orang yang ingin bertobat dan bertakwa. Kami telah memaparkan ibadah Imam as. secara panjang lebar dalam buku kami yang berjudul Mawsû‘ah A-Imam Ash-Shâdiq as. (Ensiklopedia Imam Ash-Shâdiq as).
Mutiara Hikmah
Para perawi hadis telah meriawayatkan banyak mutiara hikmah Imam Ash-Shâdiq as. yang bertalian dengan berbagai dimensi manusia dan kehidupannya. Seluruh mutiara hikmah itu mengandung nilai-nilai yang mulia dan karakter-krakter yang tinggi. Di antara mutiara-mutiara hikmahnya adalah berikut ini:
Menuju Surga Abadi
Imam Ja’far Ash-Shâdiq as. senantiasa melakukan perlawanan terhadap Khalifah Al-Manshûr sang tiran. Al-Manshûr merasa terpojokkan dan tertekan lantaran perlawanan-perlawanannya tersebut. Akhirnya, dia meminumkan racun kepada Imam as. melalui tangan gubernurnya di Madinah. Imam Ash-Shâdiq mengalami rasa sakit yang sangat pedih, dan maut pun menghampirinya dengan cepat. Selang beberapa masa, ruhnya yang suci itu menghadap Sang Pencipta.
Tonggak Islam dan pemimpin kebangkitan pemikiran dan ilmu—yang tidak tertandingi oleh siapa pun dalam kejeniusan dan keluasan ilmunya kecuali oleh nenek moyangnya itu—telah meninggal dunia. Putra dan washî-nya, Imam Musa Al-Kâzhim as. melaksanakan ritual pemakamannya. Imam Al-Kâzhim memandikan jenazahnya, mengafani, menyalati, dan lalu menguburkannya di pemakaman Baqi‘ di samping kakeknya, Imam Zainul Abidin as. dan ayahnya, Imam Muhammad Al-Bâqir as. Dengan kepergiannya, ilmu pengetahuan dan segala sesuatu yang menjadi faktor keagungan umat manusia pun ikut terkubur.[]
[1]Al-Imam Ash-Shâdiq as. Kama ‘Arafahu‘Ulamâ’ Al-Gharb: hal. 120-130.
[2]Hayâh Al-Imam Ash-Shâdiq as.: Jil. 1/34.
[3]Hayâh Al-Imam Muhammad Al-Bâqir as.: Jil. 1/38.
[4]Al-Imam As-Shâdiq as. Kama ‘Arafahu ‘Ulamâ’ Al-Gharb: hal. 112.
[5]Wasîlah Al-Ma’âl fi Manâqib Al-Âl: hal. 208.
[6]Al-Imam Ash-Shâdiq as.: hal. 101-102.
[7]Hayâh Al-Imam Ash-Shâdiq as.: Jil. 1/131.
[8]Ja‘far Ash-Shâdiq Mulhim Al-Kimiya’: hal. 32.
[9]Ja‘far bin Muhammad as.: hal. 59.
[10]Al-Irsyâd: Jil. 2/179; I‘lam Al-Wara: Jil. 1/535; Al-Mu‘tabar: Jil. 1/26.
[11]Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah: hal. 120.
[12]Al-Ushûl Al-Fikriyah li Ats-Tsaqâfah Al-Islamiyah: Jil. 1/203.
[13]Hayâh Al-Imam Ash-Shâdiq as.: Jil. 1/134.
[14]Al-Imam Ash-Shâdiq wa Al-Madzâhib Al-Arba‘ah: Jil. 1/62.
[15]Hayâh Al-Imam Ash-Shâdiq as.: Jil. 1/135.
[16]Ja‘far bin Muhammad as.: hal. 59.
[17]Târîkh Al-Kufah: hal. 408.
[18]Hayâh Al-Imam Ash-Shâdiq as.: Jil. 1/136.
[19]Mustadrak Al-Wasa’il: Jil. 17/292, hadis ke-292.
[20]Al-Imam Ash-Shâdiq Kama ‘Arafahu Ulama’ Al-Gharb: hal. 54; Jabir bin Hayyan wa Khulafa’uh: hal. 57.
[21]Mir’ah Al-Jinan: Jil. 1/304; Al-A‘lam: Jil. 1/186.
[22]Adz-Dzari‘ah: Jil. 6/301-374.
[23]Hayâh Al-Imam Ash-Shâdiq as.: Jil. 1/66.
[24]Ath-Thabaqât Al-Kubrâ: Jil. 1/32.
[25]Nabathiyah adalah sebuah kabilah Arab yang hidup di daerah antara Kufah dan Bashrah—pen.
[26]Hayâh Al-Imam Ash-Shâdiq as.: Jil. 1/66.
[27]Manâqib Ali Abi Thalib: Jil. 4/345; Amali Ath-Thusi: Jil. 1/287.
[28]Târîkh Al-Islam: Jil. 6/45; Mir’âh Az-Zamân: Jil. 6/160; Tahdzîb Al-Kamâl: Jil. 5/87.
[29]Hayâh Al-Imam Ash-Shâdiq as.: Jil. 1/64.
[30]Ibid.
[31]Majmû‘ah Warram: Jil. 2/82.
[32]Hayâh Al-Imam Ash-Shâdiq as.: Jil. 1/71.
[33]Qurb Al-Isnâd: hal. 28.
[34]Jamharah Al-Awliyâ’: Jil. 2/79.
[35]Bahjah Al-Majâlis: Jil. 1/394.
[36]Da‘âim Al-Islam: Jil. 2/12.
[37]Al-Ghâyât: hal. 100.
[38]Ibid: hal. 85.
[39]Jâmi‘ Al-Akhbâr: hal. 22.
[40]Tuhaf Al-’Uqûl: hal. 357.
[41]Al-Hikam Al-Ja‘fariyah: hal. 46.
[42]Al-Mahâsin: hal. 209.
[43]Majmû‘ah Warram: Jil. 2/185.
[44]Tuhaf Al-’Uqûl: hal. 366.
[45]Ushûl Al-Kâfî: Jil. 2/196.
[46]Hayâh Al-Imam Ash-Shâdiq as.: Jil. 4/481.
[47]Al-Imam Ash-Shâdiq as. wa Al-Madzâhi b Al-Arba‘ah: Jil. 4/354.
[48]Ibid: hal. 351.
[49]Ibid: hal. 357.
[50]Al-Mahâsin: hal. 207.
[51]Tadzkirah Abi Hamdûn: hal. 85.
[52]Târîkh Al-Ya‘qûbî: Jil. 3/116.