Back Index Next

HUKUM BACAAN DALAM SHALAT

SOAL 458:

Apa hukum shalat kami jika tidak membaca secara jahr (dengan suara luar)?

JAWAB:

Lelaki wajib membaca Al-fatihah dan surah secara jahr dalam shalat subuh, magrib dan isya’. Dan shalatnya batal jika sengaja membacanya secara ikhfat (dengan suara dalam)

SOAL 459:

Jika hendak melakukan shalat subuh secara qadha’, apakah harus membaca secara jahr ataukah ikhfat?

JAWAB:

Wajib membaca Al-fatihah dan surah dengan suara jahr dalam shalat subuh, maghrib dan isya’ secara ada’ (pada waktunya) dan secara qadha’ (di luar waktunya) dan dalam semua keadaan, meskipun qadha’nya dilakukan pada siang hari.

SOAL 460:

Kami tahu bahwa satu rakaat dalam shalat terdiri atas niat, takbiratul- ihram, Al-fatihah, surah, ruku’ dan sujud. Di sisi lain, wajib membaca dengan ikhfat dalam shalat dhuhur,  ashar, rakaat ketiga shalat maghrib dan dua rakaat terakhir shalat isya’. Namun dalam siaran radio dan televisi zikir ruku’ dan sujud pada rakaat ketiga dibaca dengan jahr, padahal kita tahu bahwa ruku’ dan sujud merupakan bagian dari rakaat (ketiga) yang wajib ikhfat. Bagaimana mengenai hukum masalah ini?

JAWAB:

Hukum wajibnya membaca secara  jahr dalam shalat maghrib, isya’ dan subuh dan wajibnya membaca secara ikhfat pada shalat dhuhur dan ashar terbatas pada pembacaan Al-fatihah dan surah. Sebagaimana juga hukum wajibnya membaca secara ikhfat pada selain rakaat pertama dan ke dua dalam shalat maghrib dan isya’ hanya berlaku atas bacaan Al-fatihah atau atau tasbihat. Sedangkan dalam zikir ruku’ dan sujud demikian pula tasyahhud dan taslim dan zikir-zikir wajib dalam  ke lima shalat, maka mukallaf boleh memilih antara jahr dan ikhfat.

SOAL  461:

Jika seseorang -di samping rakaat-rakaat harian yang berjumlah 17 (tujuh belas)- hendak melakukan shalat 17 rakaat lain sebagai qadha’ untuk ihtiyath (kehati-hatian), apakah ia wajib membaca secara jahr atau ikhfat pada rakaat pertama dan kedua shalat subuh, maghrib dan isya’?

JAWAB:

Tidak ada perbedaan dalam wajibnya membaca secara jahr dan ikhfat dalam shalat-shalat harian antara shalat  ada’ (pada waktunya) dan qadha’ (di luar waktunya), meskipun dalam rangka kehati-hatian (ihtiyath).

SOAL 462:

Kami tahu bahwa kata shalat (dalam bahasa Arab) berakhir dengan huruf “ta’”. Namun para juru adzan membaca “hayya ‘alash shalah” (dengan “ha’”). Apakah ini benar?

JAWAB:

Tidak ada isykal (masalah) mengakhiri kata shalah dengan huruf “ha’” bahkan itulah yang semestinya.

SOAL 463:

Dengan memperhatikan pendapat  Imam Khomaini (qs) dalam tafsir surah Al-fatihah

yang mengutamakan bacaan “maliki” atas “maaliki” apakah sah membacanya dengan dua cara di atas ketika membaca surah  ini dalam shalat-shalat fardhu atau lainnya?

JAWAB:

Berihtiyath dalam kasus ini tidak ada masalah (la isykal).

SOAL 464:

Apakah sah bila seorang mushalli berhenti (waqaf) dan tidak menyambung segera setelah membaca ‘ ghairil-maghdhubi alaihim’, lalu membaca ‘waladhdhallin’. Dan apakah sah membaca “allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad” dalam tasyahhud dengan berhenti (waqaf) pada kata “Muhammad” lalu melanjutkan dengan membaca “wa aali Muhammad” ?

JAWAB:

Tidak mengganggu (keabsahan shalat) selama tidak merusak kesatuan kalimat.

SOAL 465:

Imam Khumainy (qs) diminta berfatwa tentang masalah berikut:

Mengingat adanya beberapa pendapat tentang pengucapan huruf “dhad” dalam ilmu tajwid, pendapat mankah yang Anda lakukan?,  Imam menjawab: ‘Tidak wajib mengetahui makhraj-makhraj (pengucapan) huruf sesuai dengan pendapat para ulama tajwid. Yang wajib dilakukan ialah mengucapkan setiap huruf dengan cara yang tepat,  menurut pandangan umum (‘urf) orang Arab.

Pertanyaannya, ialah sebagai berikut:

1. Bagaimana Anda menafsirkan kalimat “mengucapkan setiap huruf dengan cara yang tepat menurut pandangan umum (‘urf) orang Arab”?

2. Bukankah kaidah-kaidah ilmu tajwid bersumber dari pandangan umum dan bahasa orang Arab, sebagaimana dasar-dasar ilmu sharf dan nahwu? Jika demikian, bagaimana memisahkan dua hal tersebut?

JAWAB:

Standar kebenaran dalam cara baca ialah keselarasan dengan cara baca para pengguna asli bahasa (ahlul lughah) yang mana tata dan kaidah tajwid telah disimpulkan dan disarikan dari mereka. Karenanya, perbedaan pendapat di kalangan ulama tajwid tentang cara pengucapan huruf tertentu  jika bersumber dari perbedaan dalam pemahaman mengenai pengucapan (talaffudh) para pengguna asli bahasa, maka yang menjadi dasar dan rujukan ialah pandangan umum (‘urf) para pengguna asli bahasa. Namun, apabila perbedaan pendapat tersebut bersumber dari perbedaan di kalangan para pengguna asli bahasa itu sendiri tentang cara pengucapan, maka mukallaf berhak memilih salah satu dari pendapat-pendapat tersebut.

SOAL 466:

Seseorang yang sejak semula berniat atau mempunyai kebiasaan membaca surah Al-fatihah dan surah Al-ikhlas dan secara tidak sadar mengucapkan basmalah tanpa terlebih dahulu menentukan (surah yang akan dibaca), apakah ia wajib mengulang dan menentukan (surah) kemudian memulai basmalah?

JAWAB:

Ia tidak wajib mengulang basmalah, melainkan cukup baginya basmalah yang telah ia baca untuk surah apapun yang hendak ia baca setelahnya.

SOAL 467:

Apakah wajib mengucapkan kata-kata Arab secara sempurna dalam shalat-shalat wajib? Apakah sah shalat yang tidak dilakukan dengan pengucapan kata-kata secara benar dan sempurna dalam bahasa Arab?

JAWAB:

Wajib (mengucapkan) seluruh zikir shalat meliputi bacaaan Al-fatihah dan surah serta lainnya secara benar. Bila mushalli  tidak mengetahui lafal-lafal Arab dengan cara baca yang semestinya, maka ia wajib belajar. Jika tidak mampu, maka ia dimaafkan (ma’dzur).

SOAL 468:

Apakah membaca dalam hati tanpa mengucapkannya bisa dianggap sebagai bacaan ataukah tidak?

JAWAB:

Ia tidak dianggap sebagai bacaan (qira’ah). Dan tidak cukup dalam shalat kecuali dengan melafalkannya sehigga bisa disebut “membaca”.

SOAL 469:

Sesuai dengan pendapat sebagian  mufassirin bahwa sejumlah surah  Al-Qur’an seperti surah Al-fil dan Quraisy, surah Al-insyirah dan Ad-dhuha masing-masing tidak dianggap sebagai satu surah secara utuh. Mereka juga berpendapat bahwa jika seseorang membaca salah satu dari keempat surah tersebut, Al-fil, misalnya, maka ia wajib membaca pula surah berikutnya, yaitu Quraisy, demikian pula surah Al-insyirah dan Ad-dhuha yang harus dibaca secara berurutan sekaligus. Apabila seseorang hanya membaca surah Al-fil atau Al-insyirah dalam shalatnya karena tidak mengerti masalah ini, apa yang menjadi kewajibannya?

JAWAB:

Jika memang tidak mengetahui masalah ini bukan karena kelalain, maka sholat yang telah dilakukan sebelumnya dihukumi sah.

SOAL 470:

Jika seseorang saat sedang shalat secara tidak sadar membaca surah  Al-fatihah dan sebuah surah pada rakaat ketiga shalat dhuhur, lalu menyadari kesalahannya setelah usai shalat. Apakah ia wajib mengulanginya? Dan jika tidak kunjung sadar akan kekeliruannya, apakah shalatnya sah ataukah tidak?

JAWAB:

Dalam kasus yang ditanyakan, shalatnya sah dan ia tidak menanggung sesuatu apapun.

SOAL 471:

Apakah perempuan dapat mngeraskn suaranya ketika membaca Fatihah dan surah pada saat melakukan sholat Subuh, Maghrib an Isya'?

JAWAB:

Mereka bisa mengeraskan atau memelankan bacaannya, namun jika ada non muhrim yang mendengarnya sebaiknya mereka membacanya dengan pelan.

SOAL 472:

YM Imam Khomaini (qs) berpendapat bahwa tolok ukur ikhfat dalam shalat dhuhur dan ashar adalah yang bukan  jahr. Padahal, kami tahu bahwa selain sepuluh huruf, semua huruf lainnya bersifat jahriyah (dibaca dengan suara). Atas dasar itulah jika kami melakukan shalat dhuhur dan ashar tanpa jahr, maka bagaimana dengan 18 huruf jahriyah? Kami mohon penjelasan mengenai maslah ini?

JAWAB:

Tolok ukur ikhfat bukanlah dengan meninggalkan substansi suara (membaca tanpa suara). Melainkan dengan tidak menampakkannya, kebalikan  jahr yang tolok ukurnya ialah dengan menampakkan substansi suara.

SOAL 473:

Bagaimana orang-orang asing, pria dan wanita, yang masuk Islam, namun tidak memiliki pengetahuan bahasa Arab dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban keagamaan, baik shalat maupun lainnya? Secara fundamental, apakah pelu mempelajari bahasa Arab dalam bidang ini ataukah tidak ?

JAWAB:

Wajib mempelajari takbir, Al-fatihah (al-hamd), surah, tasyahhud,, salam dalam shalat, dan sebagainya yang disyaratkan pengucapannya dalam Bahasa Arab.

SOAL 474:

Apakah ada dalil bahwa shalat-shalat nafilah malam atau nafilah  shalat-shalat jahriyah dibaca secara jahr. Demikian pula halnya dengan nafilah shalat-shalat ikhfatiyah dibaca secara ikhfat. Jika jawabannya Ya, apakah nafilah sholat jahriyah sah jika dibaca secara ikhfat, demikian juga sebaliknya? Kami mohon penjelasan fatwa Anda. Semoga Anda diberi pahala.

JAWAB:

Dianjurkan (mustahab) membaca secara jahr dalam nafilah shalat-shalat fardhu yang bersifat jahryah, dan membaca secara ikhfat dalam nafilah shalat-shalat ikhfatiyah. Jika menyalahi atau berbuat sebaliknya, maka juga dianggap cukup.

SOAL 475:

Apakah dalam shalat dan setelah membaca Al-fatihah wajib membaca sebuah surah secara utuh ataukah cukup membaca sepenggal dari Al-Qur’an? Pada situasi pertama, apakah boleh, setelah membaca surah, membaca sebagian ayat-ayat Al-Qur’an?

JAWAB:

Dalam shalat-shalat fardhu harian membaca beberapa ayat Al-Qur’an tidaklah mencukupkan dari pembacaan sebuah surah  sempurna, namun membaca sebagian ayat sebagai (bacaan) Al-Qur’an setelah membaca satu surah  penuh tidak dipermasalahkan (la isykal).

SOAL 476:

Jika salah dalam membaca Al-fatihah dan surah atau dalam i’rab dan harakat kata-kata dalam shalat, seperti ketika kata “yulad”   (huruf lam-nya dibaca dengan fathah) dibaca dengan  “yulid”  (huruf lam-nya dibaca dengan kasrah) karena keteledoran atau pengaruh logat-nya, apakah hukum shalatnya?

JAWAB:

Jika karena sengaja atau karena tidak tahu yang diakibatkan oleh keteledoran (jahil muqashshir), padahal mampu untuk mempelajarinya, maka shalatnya batal. Jika tidak, maka sah shalatnya. Walaupun demikian jika sholat yang telah Anda lakukan tersebut dengan keyakinan, bahwa ia benar, maka Anda tidak wajib mengulangnya.

SOAL 477:

Seseorang telah berusia 35 atau 40 tahun. Ketika masih kecil tidak pernah diajari shalat oleh kedua orang tuanya. Ia buta huruf dan telah berusaha mempelajari cara shalat yang benar. Namun ia tidak mampu mengucapkan kata-kata dan zikir-zikir shalat secara benar, bahkan tidak mengucapkan sebagiannya sama sekali. Apakah shalatnya sah?

JAWAB:

Shalatnya dihukumi sah jika ia melakukan sesuai kemampuannya.

SOAL 478:

Dulu saya mengucapkan kata-kata dalam shalat sebagaimana yang saya pelajari dari kedua orang tua dan yang diajarkan di SLTP. Selanjutnya saya sadar bahwa saya telah mengucapkan kalimat-kalimat itu secara tidak benar. Apakah saya wajib, sesuai fatwa Imam Khomaini (qs), mengulang shalat? Ataukah seluruh shalat yang telah saya lakukan dengan cara tersebut sah?

JAWAB:

Dalam kasus yang ditanyakan, seluruh shalat yang telah  anda lakukan dihukumi sah, tidak perlu diulang maupun diqadha’.

SOAL 479:

Apakah sah shalat dengan isyarat bagi orang bisu yang tidak mampu berbicara tapi inderanya sehat?

JAWAB:

Shalatnya sah dan cukup dalam kasus yang disebutkan.

ZIKIR

SOAL 480:

Apakah ada masalah (isykal) jika mengganti zikir ruku’ dengan zikir  sujud dan sebaliknya secara sengaja?

JAWAB:

Jika ia melakukannya dengan dasar sebagai zikirullah (‘azza ismuh) secara umum, maka tidak ada masalah, sedangkan ruku’, sujud, dan shalatnya sah seluruhnya.

SOAL 481:

Jika seorang membaca zikir ruku’ dalam sujudnya karena lupa atau sebaliknya; membaca zikir sujud ketika ruku’, lalu ia segera ingat dan melakukan pembenahan, apakah shalatnya sah?

JAWAB:

Tidak ada masalah, dan shalatnya sah.

SOAL 482:

Jika seseorang, setelah usai shalat atau saat sedang melakukan shalat, ingat bahwa zikir yang ia baca pada sujud atau ruku' nya keliru, apakah hukumnya?

JAWAB:

Jika (ingat) setelah melalui posisi zikir, yakni ruku’ dan sujud, maka ia tidak menanggung suatu apapun.

SOAL 483:

Apakah cukup seseorang membaca tasbihat arba’ah (tasbih yang empat, yakni subhaanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.pent) sekali saja dalam rakaat ketiga dan keempat?

JAWAB:

Cukup, namun dianjurkan berdasarkan ahwath, membacanya tiga kali.

SOAL 484:

Tasbihat arba’ah dalam shalat dibaca tiga kali. Namun, ada seseorang yang karena lupa membacanya empat kali. Apakah shalatnya diterima di sisi Allah SWT?

JAWAB:

Tidak ada masalah (la isykal).

SOAL 485:

Apakah hukum orang yang tidak tahu bahwa ia telah membaca tasbihat arba’ah sebanyak tiga kali atau lebih atau kurang dalam rakaat ketiga dan keempat shalatnya?

JAWAB:

Membaca satu kali juga sudah cukup dan ia tidak menanggung suatu apapun. Dan selama belum melakukan ruku’, ia dapat menganggap bahwa ia telah membacanya kurang dari tiga kali lalu mengulanginya sampai yakin bahwa ia telah mengucapkannya sebanyak tiga kali.

SOAL 486:

Apakah boleh membaca “bihaulillaahi wa quwwatihi . . .”  ketika tubuh sedang bergerak dalam shalat? Apakah hal itu sah sebagaimana dalam posisi berdiri (qiyam)?

JAWAB:

Tidak ada masalah (la isykal). Pada dasarnya zikir tersebut (dibaca) dalam keadaan berdiri untuk memasuki rakaat berikutnya.

SOAL 487:

Apakah yang dimaksud dengan ‘zikir’? Apakah ia mencakup salawat atas Nabi dan keluarganya (saw)?

JAWAB:

Zikir adalah setiap lafal yang mengandung sebutan Allah (‘azza ismuh), sedangkan shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad (saw) termasuk zikir yang termulia.

SOAL 488:

Apakah ada masalah (isykal) jika kami pada saat melakukan shalat witir, yang hanya satu rakaat, saat mengangkat tangan dalam qunut dan permohonan hajat, menyebutkan keperluan-keperluan dengan Bahasa Persia?

JAWAB:

Tidak ada malasah (la isykal) berdo’a dalam qunut dengan Bahasa Persia. Bahkan tidak ada larangan berdoa dalam qunut dengan bahasa apapun selain Bahasa Arab.

SUJUD

SOAL 489:

Apakah hukum sujud dan tayammum dengan semen atau lantai (ubin)?

JAWAB:

Tidak ada masalah (isykal) bersujud di atas kedua benda tersebut dan bertayammum dengan keduanya.

SOAL 490:

Apakah ada masalah jika meletakkan kedua tangan saat sedang shalat di atas lantai yang berlubang-lubang kecil?

JAWAB:

Dalam kasus yang anda sebutkan, tidak ada masalah (la isykal).

SOAL 491:

Apakah ada masalah menggunakan turbah sujud yang telah menghitam dan kotor hingga lapisan kotoran tersebut menjadi penghalang antara dahi dan turbah?

JAWAB:

Jika kotoran pada turbah tersebut sedemikian rupa sehingga menghalangi antara dahi dan turbah, maka batallah sujudnya, demikian pula shalatnya.

SOAL 492:

Seorang wanita yang sujud di atas turbah, sedangkan dahinya tertutup oleh hijab, terutama tempat bersujud. Apakah ia wajib mengulangi shalat-shalatnya?

JAWAB:

Ia tidak wajib mengulang jika saat bersujud tidak menyadari adanya penghalang.

SOAL 493:

Seorang wanita meletakkan kepalanya di atas turbah, lalu merasa bahwa dahinya tidak menyentuh turbah secara sempurna, karena cadur (sejenis abaya wanita di Iran) atau saputangan menghalangi antara keduanya. Karena itulah ia mengangkat kepalanya dan meletakkannya lagi  di atas turbah setelah menyingkirkan penghalangnya. Bagaimanakah hukum berkenaan dengan kasus ini? Dan jika tindakan meletakkan kepala kembali dianggap sebagai satu sujud secara terpisah, apa hukum shalat-shalat yang telah dilakukannya?

JAWAB:

Ia wajib menggerakkan dahi hingga mencapai turbah tanpa mengangkatnya dari tanah. Dan jika ia mengangkat dahi dari tanah, demi bersujud di atas turbah karena tidak tahu atau lupa, dan ia melakukannya dalam satu sujud di antara dua sujud pada satu rakaat, maka shalatnya sah dan ia tidak wajib mengulangnya. Namun, jika ia mengangkat dahinya karena ingin bersujud di atas turbah secara sengaja atau melakukan hal itu dalam dua sujud sekaligus dalam satu rakaat, maka shalatnya batal dan ia wajib mengulangnya.

SOAL 494:

Wajib meletakkan tujuh anggota sujud di atas tanah saat sedang sujud. Namun kami tidak mampu melakukan hal ini karena kondisi kesehatan yang tidak mengizinkan karena kami termasuk veteran yang cacat dan menggunakan kursi roda. Untuk melakukan shalat, adakalanya kami megangkat turbah dan kami tempelkan pada dahi, dan adakalanya kami letakkan turbah pada pegangan kursi roda lalu kami bersujud di atasnya. Apakah perbuatan demikian sah?

JAWAB:

Jika anda mampu meletakkan turbah di atas pegangan kursi dan bersujud di atasnya, maka lakukanlah, dan shalat anda sah. Jika tidak, lakukanlah dengan cara apapun yang bisa anda lakukan, meskipun dengan membungkuk atau dengan memberikan isyarat untuk sujud dan ruku’, dan tidak ada masalah. Semoga anda dikaruniai kesuksesan oleh Allah ta’aala.

SOAL 495:

Apa hukum sujud di atas batu marmer yang dijadikan lantai makam-makam mulia?

JAWAB:

Tidak ada masalah (la isykal) bersujud di atas batu marmer.

SOAL 496:

Apa hukum meletakkan sebagian jari-jari kaki di samping ibu jari di atas tanah saat bersujud?

JAWAB:

Tidak ada masalah (la isykal).

SOAL 497:

Akhir-akhir ini telah diproduksi sebuah turbah untuk sholat yang diberi nama ‘turbah Al Amin’. Fungsinya ialah untuk menghitung jumlah rakaat dan sujud pelaku shalat dan menghilangkan keraguan dalam batas tertentu. Mengingat bahwa perusahaan yang memproduksinya mengaku bahwa para marja’ taqlid memperbolehkan bersujud diatasnya, kami mohon penjelasan pendapat Anda YM, padahal turbah tesebut bergerak ke bawah karena di bawahnya terdapat pegas besi ketika dahi diletakkan di atasnya. Apakah sah bersujud di atas turbah tersebut?

JAWAB:

Jika ia termasuk benda yang sah dijadikan sebagi tempat sujud dan tidak bergerak saat meletakkan dahi di atasnya dan ditekan, maka sujud di atasnya tidak ada masalah (la isykal).

SOAL 498:

Kaki sebelah manakah yang kita letakkan di atas kaki lainnya ketika duduk setelah sujud?

JAWAB:

Dimustahabkan duduk pada paha kiri, dan meletakkan bagian luar kaki kanan di atas telapak kaki kiri.

SOAL 499:

Zikir apakah yang lebih utama dibaca setelah zikir wajib dalam sujud dan ruku’?

JAWAB:

Mengulangi zikir wajib itu sendiri dan mengakhirinya pada bilangan ganjil. Sebagaimana dimustahabkan dalam sujud, di samping zikir wajib, untuk memohon hajat (keperluan) dunia dan akhirat.

SOAL 500:

Apakah taklif syar’i kami ketika mendengar ayat-ayat sajdah dari tape recorder atau radio?

JAWAB:

Pada kasus yang ditanyakan sujud hukum wajib.

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SHALAT

SOAL 501:

Apakah shalat menjadi batal jika membaca syahadah (kesaksian) atas kepemimpinan (wilayah)  Amirul mukminin Ali bin Abithalib as dalam tasyahhud?

JAWAB:

Sholat termasuk di dalamnya bacaan tasyahhud haruslah dilakukan seperti yang diterangkan oleh para marja agung syiah (semoga Allah memperbanyak jumlah mereka) dalam risalah amaliyah mereka. Janganlah menambahkan sesuatu atas hal itu, meskipun hal itu haq dan benar pada dirinya.

SOAL 502:

Seseorang kejangkitan riya’dalam ibadah-ibadahnya. Kini ia berusaha menentang hawa nafsunya. Apakah hal ini juga dianggap sebagai riya’? Dan bagaimana ia dapat menghindarinya?

JAWAB:

Setiap amal perbuatan yang dilakukan karena Tuhan diantaranya memerangi riya', tidak bisa dianggap riya'. Dan untuk melepaskan diri dari riya’, ia harus merenungkan keagungan Allah SWT dan merenungkan kelemahan dan kepapaan dirinya sebagaimana makhluk-makhluk lain kepadaNya serta merenungkan kehambaan dirinya dan seluruh umat manusia kepada Allah SWT.

SOAL 503:

Saat bergabung dalam shalat jamaah saudara-saudara sunni, kata ‘aamiin’ disuarakan secara keras setiap kali imam usai membaca Alfatihah. Apa hukumnya hal itu?

JAWAB:

Jika keikutsertaan (dalam shalat jamaah tersebut) mengharuskan ucapan ‘aamiin’ dalam kasus yang disebutkan, maka tidak ada larangan mengucapkannya, jika tidak maka hal itu tidak diperbolehkan.

SOAL 504:

Kadang kala saat sedang shalat wajib, kami melihat anak kecil melakukan perbuatan berbahaya. Apakah boleh membaca sebagian ayat surah Al-fatihah atau surah lain, atau sebagian zikir dengan suara lantang agar anak kecil itu sadar atau demi menarik perhatian orang di dalam rumah agar mencegah bahaya? Dan apakah hukum shalat sambil menggerakkan tangan atau mengernyitkan dahi demi memahamkan seseorang tentang suatu masalah atau demi menjawab pertanyaannya?

JAWAB:

Jika mengangkat suara ketika membaca ayat-ayat atau zikir-zikir demi mengingatkan orang lain tidak menyebabkan keluar dari bentuk keadaan shalat, maka hal itu tidak dipermasalahkan, selama qira’ah (bacaan Alfatihah dan surah. pent) dan zikir tersebut dilakukan dengan tujuan qira’ah dan zikir. Sedangkan berbicara saat sedang bershalat atau melakukan gerakan yang tidak bertentangan dengan ketenangan dan thuma’ninah atau tidak bertentangan dengan bentuk shalat, maka tidak membatalkan shalat.

SOAL 505:

Jika seseorang tertawa saat sedang shalat karena teringat ucapan yang menggelikan (lucu) atau terjadinya suatu yang memancing tawa, apakah shalatnya batal ataukah tidak?

JAWAB:

Jika tertawa dengan mengeluarkan suara maka shalatnya batal.

SOAL 506:

Apakah mengusap wajah dengan kedua tangan setelah qunut  saat sedang shalat membatalkan shalat? Jika menyebabkan batalnya shalat, maka apakah hal itu dianggap maksiat dan dosa?

JAWAB:

Makruh hukumnya, namun tidak membatalkan shalat.

SOAL 507:

Apakah boleh memejamkan kedua mata saat shalat karena membuka keduanya mengalihkan pikiran dari shalat?

JAWAB:

Tidak ada larangan syar’i memejamkan kedua mata saat shalat. Namun makruh hukumnya.

SOAL 508:

Saat sedang shalat saya teringat akan peristiwa-peristiwa keimanan dan kondisi-kondisi spiritual yang dulu saya alami ketika berjuang melawan Rezim Ba’ts yang kafir sehingga dapat membantu saya menambah kekhusukan dalam shalat. Apakah hal ini membatalkan shalat?

JAWAB:

Hal ini tidak merusak keabsahan shalat?

SOAL 509:

Apakah permusuhan dan tidak saling tegur sapa antara dua orang selama tiga (3 hari) membatalkan shalat dan puasa juga?

JAWAB:

Permusuhan dan tidak saling tegur-sapa antar dua orang, walaupun termasuk perbuatan tercela dalam syariat, tidak membatalkan shalat ataupun puasa..

MEMBALAS SALAM

SOAL 510:

Apakah wajib membalas salam anak-anak?

JAWAB:

Wajib membalas salam dari anak-anak laki dan perempuan mumayyiz (yang mampu membeda-bedakan antara yang baik dan yang buruk.pent), sebagaimana wajib membalas salam dari lelaki dan wanita dewasa.

SOAL 511:

Jika seseorang mendengar salam namun tidak membalasnya karena lalai atau karena sebab lain sehingga terputus dalam jarak waktu singkat, apakah masih wajib membalasnya?

JAWAB:

Jika keterlambatan itu terjadi dalam jarak waktu yang sekiranya tidak lagi disebut sabagai membalas salam, maka membalasnya tidak wajib.

SOAL 512:

Jika seseorang mengucapkan salam kepada sejumlah orang dengan mengucapkan “Assalamualaikum jami’an” artinya ‘salam atas Anda sekalian semua’, sedangkan salah satu dari mereka sedang melakukan shalat, apakah ia wajib membalas, meskipun orang-orang lain (yang tidak shalat) telah membalas salamnya?

JAWAB:

Berdasarkan ahwath hendaknya tidak memulai membalas apabila orang lain telah membalasnya.

SOAL 513:

Apa pendapat Anda tentang membalas penghormatan yang tidak menggunakan kata ‘salam’?

JAWAB:

Tidak diperbolehkan membalasnya ketika sedang shalat. Adapun di luar sholat berdasarkan ahwath, wajib membalasnya jika  berupa ucapan dan, menurut pandangan umum (‘urf), tergolong sebagai penghormatan.

SOAL 514:

Jika seseorang mengucapkan salam beberapa kali dalam satu waktu atau beberapa orang mengucapkan salam, apakah cukup membalasnya satu kali untuk semuanya?

JAWAB:

Yang pertama cukup membalas satu kali. Adapun yang kedua cukup sekali dalam bentuk kata yang umum sehingga mencakup semua dengan tujuan membalas salam mereka.

SOAL 515:

Salah seorang mengucapkan penghormatan dengan menggunakan kata ‘salam’, bukan ‘assalamu’alaikum’. Apakah wajib membalas salamnya? Dan jika seorang yang belum baligh mengucapkan ‘salamun alaikum’, apakah wajib membalas penghormatannya?

JAWAB:

Jika menurut pandangan masyarakat umum (‘urf) ucapan tersebut merupakan penghormatan dan salam, maka wajib membalasnya. Dan jika yang mengucapkan salam anak kecil yang mumayyiz, maka wajib membalasnya.

KERAGUAN-KERAGUAN DALAM SHALAT

SOAL 516:

Apa hukum orang yang berada dalam rakaat ketiga shalat ragu apakah ia telah melakukan qunut ataukah tidak? Apakah ia harus melanjutkan shalat atau menghentikannya sejak keraguan itu muncul?

JAWAB:

Keraguan tersebut tidak perlu dipedulikan. Shalatnya sah dan mukallaf dalam masalah ini tidak menanggung suatu apapun.

SOAL 517:

Apakah keraguan dalam shalat nafilah tentang hal-hal selain rakaat, seperti ragu apakah telah melakukan sekali sujud  ataukah dua kali, harus dipedulikan?

JAWAB:

Hukum tentang keraguan dalam bacaan dan perbuatan shalat nafilah sama dengan keraguan dalam shalat fardhu. Artinya, keraguan harus dipedulikan jika muncul saat mushalli belum beranjak dari posisi yang diragukan , dan tidak perlu dipedulikan jika ia telah melewati posisi  yang diragukan.

SOAL 518:

Orang yang banyak ragu tidak perlu mempedulikan keraguannya. Namun, apa tugas yang harus dilakukannya jika mengalami keraguan dalam shalat?

JAWAB:

Tugasnya ialah menganggap dirinya telah melakukan apa yang diragukannya. Kecuali jika melakukan hal tersebut membatalakan shalat, maka ia harus menganggap dirinya tidak melakukannya, tanpa membedakan antara keraguan tentang rakaat,  perbuatan dan bacaan.

SOAL 519:

Jika seseorang setelah beberapa tahun menyadari bahwa ibadah-ibadahnya adalah batal atau meragukannya, maka apakah tugasnya?

JAWAB:

Keraguan tentang suatu perbuatan yang telah dilakukan tidaklah dipedulikan. Namun, bila mengetahui bahwa perbuatannya batal, maka ia wajib mengqadha bagian-bagian yang masih bisa disusulkan.

SOAL 520:

Jika seseorang melaksanakan bagian-bagian tertentu dalam shalat tidak pada tempatnya karena lupa, atau jika pandangan matanya tertuju pada sebuah tempat, atau jika saat sedang bershalat berbicara karena lupa, apakah shalatnya batal ataukah tidak? Dan apa yang wajib dilakukannya?

JAWAB:

Perbuatan-perbuatan yang dilakukan karena lupasaat sedang shalat tidak membatalkan shalat. Dan dalam sebagian kasus terentu menyebabkan wajibnya sujud sahwi. Kecuali bila menambah atau mengurangi sebuah rukun, maka shalatnya batal.

SOAL 521:

Jika seseorang lupa satu rakaat dalam shalatnya lalu ingat pada rakaat terakhir, seperti menganggap rakaat pertama sebagai rakaat kedua lalu melanjutkan yang ketiga dan keempat, dan pada rakaat terakhir ia sadar itu adalah rakaat ketiga. Apa tugas syar’inya?

JAWAB:

Ia wajib melakukan rakaat yang kurang dalam shalatnya sebelum salam, kemudian membaca salam. Jika ia tidak melakukan tasyahhud wajib pada tempatnya, maka ia wajib mengqadha’nya juga berdasarkan ahwath. Dan melakukan dua sujuh sahwi.

SOAL 522:

Bagaimana seseorang dapat mengetahui jumlah rakaat shalat ihtiyath? Apakah satu ataukah dua rakaat?

JAWAB:

Jumlah rakaat shalat ihtiyath ialah sebanyak kekurangan yang diperkirakan dalam shalat. Jika keraguan berkisar antara dua rakaat dan empat, maka shalatul-ihtiyath wajib dilakukan dengan dua rakaat. Jika keraguan berkisar antara rakaat ketiga dan rakaat keempat, maka wajib melakukan satu rakaat shalat ihtiyath.

SOAL 523:

Apakah wajib melakukan sujud sahwi jika seseorang membaca dalam keadaan tidak sadar atau secara keliru sebuah kata-kata dalam  zikir shalat, ayat-ayat Al-Qur’an atau doa-doa qunut?

JAWAB:

Tidak wajib.

Back Index Next